Home » Editorial » DALAM TERJEMAHAN RESMI AL QURAN DI INDONESIA, TAK ADA LARANGAN MEMILIH PEMIMPIN NON-MUSLIM

DALAM TERJEMAHAN RESMI AL QURAN DI INDONESIA, TAK ADA LARANGAN MEMILIH PEMIMPIN NON-MUSLIM

oleh Ade Armando

Kubu Anti Ahok membuat kesalahan fatal.

Gara-gara kubu anti Ahok terlalu bersemangat mencari-mencari kesalahan sang Gubernur DKI, kini terungkap sebuah informasi penting bagi umat Islam Indonesia: ternyata sejak 1967 terjemahan resmi Kementerian Agama RI terhadap kata ‘awliya’ dalam Al Maidah 51 bukanlah ‘pemimpin’ melainkan ‘kawan setia’.

Dengan kata lain, kalau kita merujuk pada terjemahan resmi Kementerian Agama, Al Quran tidak memuat larangan memilih pemimpin non-muslim!

Kisah terungkapnya ‘kebohongan’ ini agak menggelikan.

Beberapa hari yang lalu di media sosial tersiar kabar bahwa seolah-olah ada gerakan massif dan sistematis untuk mengubah terjemahan kata ‘awliya’ dalam Al Maidah 51 Al Quran, dari yang semula berarti ‘pemimpin’ menjadi ‘teman setia’.

Menurut si penyebar informasi, Al Quran ‘palsu’ itu dibagi-bagikan ke sekolah-sekolah dengan dalih wakaf Al Quran. Al Quran yang dijual di took buku Gramedia, kata si penyebar pesan, adalah yang palsu itu.

Pesan itu dengan segera menyebar. Sejumlah netizen menambahkan dengan informasi bahwa tiga penerbit yang mengganti kata penting soal kewajiban memilih pemimpin non-muslim itu adalah: IQRO GLOBAL. MAGHFIRAH PUSTAKA dan AL MIZAN PUBLISHING HOUSE

Dalam pesan yang menyebar itu memang tidak ada kata ‘Ahok’ disebut. Namun dengan mudah, bisa disimpulkan bahwa imej yang ingin dibangun adalah: adanya gerakan terencana untuk menipu umat Islam Indonesia agar tidak percaya dengan adanya pengharaman memilih pemimpin non-muslim.

Salah satu status FB yang banyak dishare adalah status dari akun Seuramoe Mekkah yang berbunyi: “Gerak cepat, sekarang sudah beredar Al Quran terjemahan baru Al Maidah 51, “pemimpin” sudah berganti dengan “teman setia””.

Di status itu juga dilampirkan dua Foto Al Qur’an dari Penerbit Iqro Indonesia Global.

Aksi menimbulkan reaksi. Salah satu penerbit yang dituduh mengubah terjemahan, Iqro Global, dengan segera membuat pernyataan terbuka membantah fitnah itu. Dalam pernyataan itulah diketahui bahwa terjemahan yang dimuat dalam produk mereka adalah SESUAI dengan terjemahan Al Quran resmi menurut Kementerian Agama.

Penerbit Iqro menulis: “Semua Al Qur’an terjemahan yg beredar di wilayah hukum RI menggunakan terjemah yang sama untuk semua ayat dan surat. . . Semua Al Quran kami dan penerbit lainnya menggunakan Terjemah yang sama, tidak dikurangi, ditambah apalagi di rubah sedikitpun.”

Karena itulah Iqro mengadukan admin Seuramoe Mekkah kepada pihak kepolisian untuk dimintai pertanggungjawaban atas tuduhan yang sudah mereka sebarkan.

Menurut Iqro, fitnah Seuramoe Mekkah itu sudah dishare oleh hampir 10.000 netizen. Gara-gara itu, Iqro dicap Syiah, Kafir, dan antek kafir. Penerbit Iqro juga diancam untuk diboikot.

Jawaban penerbit Iqro itu tanpa diduga membuka informasi yang dirahasiakan para pembenci Ahok.

Sekarang terungkap fakta bahwa sebenarnya terjemahan kata ‘awliya’ dengan mengikuti standar Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Kementerian Agama RI bukanlah ‘pemimpin’ melainkan ‘kawan setia’.

Ini bukan terjemahan baru dari surat Al Maidah ayat 51, melainkan terjemahan yang sudah disepakati sejak tahun 1967 oleh Kementerian Agama.

Saya sendiri kemudian mencek sejumlah Al Quran yang ada di rumah saya. Ternyata baik yang diterbitkan oleh PT Syaamil Cipta Media (2006), Sygma (2007), maupun versi terjemahan HB Jassin (1982) menterjemahkan kata awliya sebagai: teman setia atau sahabat/pelindung (HB Jassin).

Bahkan ketika saya membrowse internet, saya menemukan bahwa terjemahan Al Quran dalam bahasa Inggris versi Yusuf Ali dan Muhammad Asad juga menterjemahkan ‘awliya’ sebagai ‘friends and protector’ (Yusuf Ali) dan ‘allies’ (Asad).

Jadi sekarang terungkap sudah, bahwa di Indonesia tidak bisa kita mengatakan bahwa Al Quran sudah sangat jelas melarang memilih pemimpin non-muslim. Pengharaman memilih pemimpin non-muslim adalah salah satu versi penafsiran saja. Tapi kalau menggunakan terjemahan resmi Al Quran di negeri ini, larangan itu tidak ada.

Komentar