Home » Editorial » Bom Berlin dan Kebencian terhadap Islam

Bom Berlin dan Kebencian terhadap Islam

Oleh Ade Armando

Kebencian terhadap Islam di seluruh dunia akan terus meningkat karena kelakuan orang-orang Islam sendiri.

Tiga hari lalu, sebuah truk berisi bom meledak di pasar Natal Berlin, Jerman. Dua belas tewas.

Pelakunya adalah seorang imigran Tunisia. Bernama Anis Amri, 24 tahun, dia adalah satu dari ratusan ribu pengungsi dari Timur Tengah yang diterima di Jerman karena kebaikan hati Perdana Menteri Angela Merkel. Amri sampai sekarang masih dalam pengejaran polisi.

Jerman memang dikenal sebagai negara yang paling murah hati menampung ratusan ribu pengungsi dari negara-negara yang didera konflik.

Mayoritas dari pengungsi itu adalah orang-orang Islam.

Celakanya, dalam beberapa bulan terakhir, berlangsung serangkaian aksi teror yang pelakunya adalah muslim radikal. Di Wuerzburg, Juli lalu seorang anak muda Pakistan membacoki 5 warga sipil dengan kapak dan pisau. Pada bulan yang sama, seorang imigran Suriah meledakkan bom di luar bar di Ansbach, melukai  belasan pengunjung bar.

Semua pelaku teridentifikasi memiliki gagasan-gagasan radikal tentang kewajiban berjihad terhadap Barat. Amri misalnya, mengklaim dirinya adalah anggota ISIS.

Saat ini, gambaran tentang sosok Islam yang menakutkan bukanlah diciptakan media atau pemerintah Barat. Yang menciptakan sosok monster itu adalah orang-orang Islam sendiri.

Di Indonesia, ini juga sudah mulai terjadi. Terbongkarnya kelompok bom pengantin di Bekasi dan Tangerang Selatan yang melibatkan seorang wanita adalah contoh nyata. Mudah-mudahan pemerintah dengan tegas mematikannya.

Komentar