Home » Editorial » Beranikah MUI Bersikap tentang Dugaan Pelecehan Ajaran Kristen oleh Rizieq?

Beranikah MUI Bersikap tentang Dugaan Pelecehan Ajaran Kristen oleh Rizieq?

oleh Ade Armando

Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus mengambil sikap terhadap tuduhan bahwa Rizieq Shihab menodai agama melalui ceramahnya yang melecehkan ajaran Kristen.

Kalau perlu MUI mengeluarkan fatwa tentang boleh tidaknya seorang pemuka Islam, atau juga warga muslim biasa, melecehkan ajaran Kristen secara terbuka di depan publik.

MUI diklaim sebagai lembaga yang berisi para ulama di Indonesia yang berdiri sebagai panduan bagi umat Islam menjalankan ajaran Islam.

Sekarang muncul kasus serius. Rizieq Shihab yang dianggap sebagai tokoh yang memimpin umat Islam dalam gerakan yang disebut Aksi Bela Islam, dituduh melecehkan agama Kristen.

Pertanyaannya: apakah menurut MUI, ucapan Rizieq itu haram atau halal atau biasa-biasa saja?

Kalau soal atribut natal saja, MUI mengeluarkan fatwa, mengapa MUI tidak mengeluarkan fatwa tentang apa yang dilakukan seorang ‘tokoh’ Islam.

Kalau menurut MUI ucapan Rizieq adalah sebuah hal yang diizinkan dalam Islam, umat Islam akan melakukan serupa tanpa merasa bersalah. Kalau menurut MUI itu bukanlah perbuatan yang Islami, umat Islam akan berpikir sekian kali sebelum mengejek agama Kristen.

Banyak orang yang mungkin belum mengetahui apa sebenarnya ucapan Rizieq.

Yang diadukan ke polisi  adalah ucapan Rizieq sebagaimana terekam dalam sebuah video pendek di Youtube dengan judul: ‘Rizieq Shihab menyindir ucapan natal – Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?’ (https://www.youtube.com/watch?v=sPjZB14IBUA). Video ini di-upload pada 25 Desember 2016.

Di bawah video, juga termuat keterangan bahwa rekaman tersebut tersebut diambil dari ceramah Rizieq di Pondok Kelapa pada Minggu (25/12/2016). Dalam video yang berdurasi 21 detik itu, Rizieq tampak tengah berbicara di depan massa. Dia menggambarkan bahwa kalau ada orang yang menyampaikan Selamat Natal kepadanya, maka dia akan menjawab:

“Allah Tidak Beranak, dan Tidak diperanakkan. Kalau Tuhan Beranak, Bidannya Siapa?”

Saat dia berbicara itu, terdengar khalayak tertawa.

Ini bukan kali pertama Rizieq bicara semacam itu. Saya juga menemukan video lain dengan judul, ‘CERAMAH LAUR BIASA HABIB RIZIEQ# NATAL’, yang diupload pada 24 November 2016 (https://www.youtube.com/watch?v=2gSRxzxVdH8).

Isi video kedua ini jauh lebih panjang.  Dia juga nampak sedang berceramah bersama sejumlah pemuka Islam lainnya di depan khalayak. Pada intinya dia mengatakan bahwa umat Islam tidak boleh mengucapkan Selamat Natal pada umat Kristen. Di bagian awal ceramah, sebenarnya penjelasan cukup terkendali. Tapi kemudian dia mengarang cerita tentang bagaimana kalau sampai umat Kristen tersinggung karena Rizieq tidak mau mengucapkan selamat Natal. Kalau itu sampai terjadi, katanya, seharusnya umat Islamlah yang tersinggung.  Dia mengatakan:

“Seharusnya yang tersinggung saya, bukan dia.”

“Dia mengucapkan pada saya, Habib Rizieq Selamat Natal.”

“Saya tahu artinya: Selamat hari lahir Yesus Kristus sebagai anak Tuhan.”

“Mustinya saya yang tersinggung dong.”

“Untung gua nggak kepret.”

“Kalau kita tersinggung, mustinya kite kepret. Betul (dijawab: betooolll).”

“Kurang ajar lu, anak Tuhan dari mana?”

“Kalau Yesus Anak Tuhan, bidannye siape?”

Kalau saja dia sekadar menjelaskan kepada khalayak tentang cara pandangnya mengenai ucapan Selamat Natal, tentu tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Tapi rupanya dia merasa perlu membuat suasana lebih meriah dengan membuat lelucon tentang ajaran Kristen. Pada titik itulah, pernyataan Rizieq menjadi bisa diperdebatkan.

Rizieq mengatakan: “Bidannya siapa?” Pernyataan ini tentu dilontarkan bukan karena Rizieq tidak mengetahui siapa bidan yang membantu kelahiran Yesus. Rizieq pasti tahu betul bahwa dalam ajaran Kristen, Yesus lahir di sebuah kandang, tanpa bantuan siapapun.

Kisah kelahiran Nabi Isa dalam Al Quran sendiri menggambarkan proses kelahiran yang luar biasa, serupa dengan ajaran Kristen. Nabi Isa lahir tanpa ayah. Nabi Isa lahir saat Maryam (ibunda Isa) berada sendirian di bawah pohon kurma. Yang menjaganya adalah Malaikat Jibril.

Jadi, pertanyaan Rizieq bukanlah pertanyaan yang menghendaki jawaban. Rizieq sedang bersikap sinis terhadap kepercayaan umat Kristen bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Dengan kata lain, Rizieq melecehkan sebuah keyakinan yang amat mendasar dalam keimanan umat Kristen, yaitu Yesus adalah anak Tuhan.

Karena itu, menjadi penting bagi umat Islam di Indonesia untuk mengetahui apa sikap ulama yang bergabung dalam MUI tentang pernyataan Rizieq ini.

Jangan lupa, adalah pernyataan sikap (bukan fatwa) MUI tentang pernyataan Ahok yang memicu gelombang aksi Bela Islam yang begitu besar. Dan MUI menyatakan bahwa mereka perlu mengeluarkan pernyataan sikap keagamaan itu karena mereka wajib menyampaikan kebenaran.

Kalau begitu, adalah tidak berlebihan meminta MUI mengeluarkan pernyataan (atau bahkan fatwa) tentang pernyataan Rizieq. Apa yang dianggap benar oleh MUI? Apa yang dianggap salah?

‘Fatwa’ MUI ini bisa menjadi fatwa bagi para pemuka agama berikutnya untuk berceramah di depan khalayak. Koleksi ejekan tentang agama banyak sekali tersedia. Pertanyaannya: bolehkah itu diucapkan di depan publik? Bolehkah ejekan terhadap ajaran Islam disampaikan di depan publik? Misalnya, bolehkah ejekan terhadap prilaku seks Nabi Muhammad dilontarkan di depan publik?

Seperti dikatakan oleh Menteri Agama, fatwa MUI tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Namun mengingat banyaknya umat Islam yang percaya pada MUI untuk memandu kehidupan yang Islami, adalah penting MUI bersikap secara jelas tentang pernyataan Rizieq.

Kalau MUI bungkam, tahulah kita bahwa MUI memang bukan lembaga yang diisi para ulama pemandu umat. Mereka mungkin cuma sekadar ulama yang dimanfaatkan untuk kepentingan sempit, atau ulama yang tidak jujur dan objektif, atau ulama yang takut pada Rizieq.

Komentar