Home » Editorial » Apakah Al-Qur’an Bukan Kitab Hukum? Menjawab Ade Armando (Bagian-3/Habis)

Apakah Al-Qur’an Bukan Kitab Hukum? Menjawab Ade Armando (Bagian-3/Habis)

Oleh Fazal-e-Mujeeb

(Tulisan ini adalah adalah tanggapan terhadap tulisan Ade Armando,  ‘Mengapa Kita Sebaiknya Tidak Memandang Al-Quran Sebagai Kitab Hukum’, yang diterbitkan di di www. madinaonline.id 11 April 2016. Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari tiga tulisan yang  tampil berseri setiap hari).

Pemimpin Non-muslim

Khususnya hal ini muncul waktu pemilihan umum. Sebetulnya proses memilih pemimpin, dalam Islam,  sangat mirip dengan cara demokrasi. Tetapi Islam tidak menentukan suatu model pemerintahan tertentu; kerena Islam agama universal untuk seluruh dunia.

Menurut Al-Qur’an prinsip pemerintahan, yang paling pokok dan penting adalah keadilan mutlak (absolute justice). Keadilan sangat ditegaskan dan dikedepankan, “Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang-orang yang teguh kerena Allah, dengan menjadi saksi yang adil, dan janganlah kebencian suatu kaum mendorongmu bertindak tidak adil. Berlakulah adil, itu lebih dekat kepada taqwa…..” (QS. 5: 9).  Jika dilihat dari masa ke masa, akar semua permasalahan di dunia (Ekonomi, Politik, Sosial dll) adalah; tidak adanya keadilan.

Oleh sebab itu, di dalam Al-Quran, kriteria kepemimpinan tidak berkaitan dengan latar belakang seseorang (agama, ras, warna kulit dll ).  Allah swt berfirman, “Katakanlah,’Wahai Allah Pemilik kerajaan, Engkau memberi kerajaan (pemerintahan) kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki….” (QS. 3: 27).  Ayat ini sangat jelas bahwa Allah swt lah yang memberi pemerintahan keapada siapa saja. Disini tidak ditentukan bahwa Allah swt hanya akan memberi pemerintahan kepada orang Muslim saja. Di dalam ayat berikut yang dilarang ‘bersahabat dengan kaum kafir’, artinya adalah persahabatan yang merugikan kepentingan Negara-negara Muslim. Larangan tersebut bukanlah secara umum.

Kemudian, Al-Quran, menasihatkan bagaimana mengunakan hak suara, “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu supaya menyerahkan amanat-amanat (hak suara) kepada yang berhak menerimanya…” (QS: 4: 59). Dalam ayat-ayat ini tidak ditentukan, agama, warna kulit, ras dan lain-lain, sebagai faktor yang dipertimbangkan saat memilih pemimpin. Boleh siapa saja, asal paling cocok untuk mengemban jabatan (right person for the right job).

Selanjutnya, mengarahkan cara menjalankan pemerintahan, “… dan apabila kamu menghakimi di antara manusia hendaklah kamu menghakimi dengan adil” (QS. 4: 59 ). Setelah dipilih, seorang pemimpin juga harus melaksanakan urusan pemerintahan dengan adil. Tidak boleh membeda-bedakan antara rakyatnya (atas dasar agama, warna kulit, ras dll). Hal ini jelas, dari kata ‘annas’ artinya ‘manusia’.

Suri tauladan Yang Mulia Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya juga sesuai. Beliau menyuruh para sahabat, dua kali ‘hijrah’ ke Negara Abbesinia. Dimana  saat itu, pemimpinnya non-muslim (Nasrani). Dengan alasan bahwa rajanya sangat adil.

Saat Beliau saw dapat pemerintahan, selalu mengedepankan keadilan. Pernah orang pembesar Muslim (kaya dan terkenal) berbuat kejahatan. Padahal ada yang menginginkan orang besar tersebut, diberi keringanan kerena status dan kedudukan keluarganya. Hal ini membuat beliau saw sangat marah. Beliau saw menolak masukannya dan melaksanakan keadilan dengan mutlak.

Di masa Khalifa Islam kedua (Umar ra) ada kasus dimana orang muslim salah dan orang Yahudi benar. Maka beliau memutuskan untuk orang Yahudi.

Sikap terhadap Kaum Musrik

Menurut Imam Abu Hanifah ra (yang punya pengikut paling banyak diantara empat mazhab) dan para ahli fiqih mazhab hanafi yang lain,  “dimana Al-Quran menyebutkan ‘orang musryik najis’; maksudnya adalah ajarannya bukan orangnya”. Maka, orang musriyk bisa masuk dalam masjid-masjid Islam, termasuk Masjid Al-Haram. Tetapi tidak boleh melaksanakan Ibadah Haji dan Umroh (atau ibadah lain) dengan cara-cara kemusrikan” (Al-Fiqah Al-Islami wa Adillahu, dikumpul oleh Dr. Wahbata Al-Zehliy, Jilid 6 Halaman 434,435 Darul Fikr Damaskus’).

Akidah Imam Abu Hanifah ini didukung oleh Surah At-Taubah ayat 6,

“Dan jika salah seorang di antara orang orang musyrik meminta perlindungan kepada engkau, berilah ia perlindungan hingga ia dapat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempatnya yang aman…..”  Ayat ini sangat jelas bahawa orang Islam boleh bersosialisasi dengan orang musyrik.

Yang kedua, menurut Al-Quran, Yahudi dan Nasrani adalah ‘Ahli Kitab’ bukan Musyrik. Musyrik adalah orang yang menyembah berhala-berhala dan tidak ikut agama samawi apa pun.

Jihad

Di masa ini Jihad (lebih tepatnya ‘Qital’, perang fisik) juga disalahtafsirkan oleh sebagian orang Muslim maupun non-Muslim. Ada yang berpendepat, bahwa setiap perang sama orang-orang non-Muslim adalah jihad. Dan setiap orang non-Muslim wajib dibunuh, walaupun dia peperang dengan orang Muslim atau tidak.

Hal-hal seperti ini sama sekali tidak ditemukan dalam Al-Quran mau pun Sunnah Yang Mulia Nabi Muhammad saw. Bahkan, fakta sejarah membuktikan  — bahwa dimasa Yang Mulia Nabi Muhammad saw — beliau saw  dan parah sahabatnya yang dipersikusi, dianiyaya dan diserang oleh musuh Islam. Keaniayan begitu sadis, bahwa manusia menjadi malu dan gemetar dengan ceritanya.

Misalnya, salah satu sahabat wanita dibunuh dengan cara kejam, dimana dua kakinya diikat dengan dua onta. Kemudian, dua onta itu dipaksa lari berlawanan arah. Badannya terbelah dari tengah dan beliau meniggal dunia. Ini hanya satu contoh saja. Masa permulaan Islam penuh dengan cerita-cerita seperti ini.

Dalam keadaan demikian, ada sahabat yang minta izin dari Yang Mulia Rasullulah saw untuk membalas. Tetapi beliau saw selalu menasihati untuk sabar. Sampai suatu hari, musuh Islam merencanakan membunuh beliau saw. Terpaksa, beliau saw hijrah dari Mekkah ke Madinah. Masa hidup di Mekkah bukan sebentar; sepanjang 13 tahun.

Di Madinah pun orang Islam tidak dapat ketenangan. Selalu dalam keadan takut dan gelisah. Hampir setiap hari ada rumor bahwa musuh Islam dari Mekkah akan meyerang Madinah. Pada satu hari mereka benar-benar meyerang. Orang Yahudi di Madinah juga sibuk bermufakat jahat dengan musuh Islam.

Dalam keadaan begitulah, pertama kali, orang Islam depat izin membela diri, “Telah diizinkan (untuk angkat senjata)  bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya kerena mereka berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah’. Dan sekiranya Allah tidak menahan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, maka biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah tentu telah dihancurkan. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa, Mahaperkasa”(QS:22:40-41).

Ayat ini, memberi alasan-alasan yang sangat masuk akal, untuk membela diri. Juga menjelaskan secara rinci, persyaratan-persyaratan yang paling dasar untuk ‘Jihad Bissaif’. Diantara alasan-alasannya sebagai berikut:

  • Kaum Muslimin diperlakukan dengan aniaya
  • Mereka telah diusir dari kamupung halamanya tanpa alasan yang adil dan sah
  • Satu-satunya kesalahan mereka ialah hanya karena mereka beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa

Kalau satu kaum dimasa ini, dianiaya seperti kaum Muslimin dan Rasullah saw di masa lalu, dengan alasan-alasan di atas; apakah hati nurani kita tidak memberi fatwa, bahwa kaum seperti itu memiliki hak bela diri sepenuhnya?

Tujuannya dan maksud peperangan dalam Islam, sekali-kali bukan untuk merampas hak orang-orang lain atas rumah dan milik mereka, atau merampas kemerdekaan mereka serta memaksa mereka tunduk kepada kekuasaan asing, atau untuk menjajagi pasar-pasar yang baru atau memperoleh tanah-tanah jajahan baru.

Yang dimaksudkan ialah menegakkan perang semata-mata untuk membelah diri dan untuk menyelamatakan Islam dari kemusnahan, dan untuk menegakan kebebasan berpendapat dan kebebasan berpikir, dan berperang membela negeri, kehormatan, dan kemerdekaan terhadap serangan tanpa dihasut; begitu juga untuk membelah tempat-tempat peribadatan yang dimiliki oleh agama-agama lain.(QS 2: 194 ; 2: 257; 8: 40 dan. 8: 73).

Selain alasan-alasan dan tujuan ini, jelas juga di Al-Quran, bahwa Islam hanya mengizinkan berperang dengan orang-orang yang menyerang kepada kaum Muslimin. Militer dengan militer, bukan dengan setiap orang kafir.

“Dan perangilah orang-orang yang memperangi kamu di jalan Allah, dan janganglah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. 2: 191). Ayat ini sangat jelas.

Dimana pun Al-Quran  perintahkan ‘bunuhlah’ kafir, musryik, atau musuh Islam lain— seperti di Sura At Taubah, Al-Baqarah atau surah lain; perintah tersebut berlaku kepada pasukan yang berperang terhadap Islam. Bukan orang kafir seperti pada umumnya. Dan dimana pun dilarang berteman dengan mereka itu pun sama. Atau orang-orang yang membantu mereka dan berbahaya untuk Negara Islam. Bukan orang-orang kafir pada umumnya.

Hal ini terbukti juga, dari Suri Tauladan Yang Mulia Rasulullah saw. Di setiap perang orang kafir yang tertangkap tidak dibunuh begitu saja. Bahkan, dengan alasan-alasan kebaikan, biasanya di bebaskan. Ketika kemenangan Mekkah, orang kafir yang tidak melawan tidak di bunuh.

Terakhir, satu hal lagi perlu disampaikan. Setiap hukum di dunia ini bisa ditafsirkan. Sama seperti itu; Al-Quran juga bisa ditafsirkan. Tetapi Al-Quran hanya boleh ditafsirkan degan cara yang berdampak positif, bermanfaat dan berguna untuk ummat manusia. Tafsiran satu ayat harus mendukung ayat lain. Sebab, itulah tujuaan agama Islam. “Kamu adalah umat terbaik, (yang) dibangkit demi (kebaikan) ummat manusia, kamu menyuruh berbuat baik melarang dari berbuat buruk dan beriman kepada Allah….” (Qs. 3: 111).

Dan keselamatan Al-Quran dari segi teks maupun tafsir di jamin oleh Allah swt. “Sesunguhnya itu adalah Al-Quran yang mulia, Dalam suatu kitab terpilihara dengan baik. Tidak ada dapat memahami hakikatnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS. 56: 78-80)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa arti dan tafisr yang sahih dan haqiqi hanya bisa di fahami oleh orang-orang yang disucikan-Nya. Seperti, para Mujadid dan Al-Imamul Mahdi di akhir zaman ini (Habis).

 

Sebagian besar tafsir yang ditulis adalah pilihan dari hasil karya pendiri Ahmadiyyah, Hazrat Mirza Gulam Ahmad as (yang mendawakan diri sebagai Al-Imamul Mahdi dan Al-Masih yang di Janjikan) dan atau para Khalifahnya.

Catatan: Rujukan atau referensi ayat-ayat Al Quran dalam tulisan ini “Bismillahirrahmanirrahim“ dihitungan nomor urut pertama ( satu ).

Alamat e-mail: fmahmad26@yahoo.com  Mobile: 0818 8494 07

 

Komentar