Home » Editorial » Apakah Al-Qur’an Bukan Kitab Hukum? Menjawab Ade Armando (Bagian-1)

Apakah Al-Qur’an Bukan Kitab Hukum? Menjawab Ade Armando (Bagian-1)

Oleh Fazal-e-Mujeeb

(Tulisan ini adalah adalah tanggapan terhadap tulisan Ade Armando,  ‘Mengapa Kita Sebaiknya Tidak Memandang Al-Quran Sebagai Kitab Hukum’, yang diterbitkan di di www. madinaonline.id 11 April 2016. Tulisan ini merupakan bagian pertama dari tiga tulisan yang akan tampil berseri setiap hari).

Agama Islam adalah agama yang sempurna dan pedoman hidup yang lengkap (QS. 5: 4). Yang Mulia Nabi Muhammad saw mendakwakan diri sebagai seorang nabi untuk semua umat manusia (QS. 7: 159). Dan ajaran Islam adalah bersifat langgeng yang berlaku untuk sepanjang zaman,“Seorang Rasul (Muhammad) dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan. Yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi”(QS. 98: 3-4).

Meskipun demikian, pertanyaan yang kerap muncul di dalam pikiran manusia, apakah Al Quran itu hanya semacam nasihat dan masukan atau memiliki status sebagai hukum yang wajib ditaati oleh setiap umat Islam?

Sebelum  Al Quran menjawab pertanyaan tersebut. Perlu difahami, apa itu definisi hukum?

Menurut kamus ‘Oxford Advanced Learnern’s Dictionary’ (2005),  definisi hukum adalah “The whole system of rules that everyone in a country or society must obey”.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi hukum salah satunya adalah,”Undang-undang, peraturan, dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat”.

Jika Al Quran digali  dari sudut pandang definisi diatas.  Ada beberapa ayat yang membuktikan bahwa Al Quran memenuhi kriteria tersebut. “Sesunguhnya Kami telah menurunkan kepada engkau, Kitab yang mengandung kebenaran supaya engkau menghakimi di antara manusia dengan apa yang diajarkan Allah kepada engkau…” (QS. 4: 106). Ayat ini sangat terang bahwa Al-Qur’an adalah kitab hukum bagi umat Islam.

Selanjutnya,“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang memagang kekuasaan di antaramu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu maka kambalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Itu paling baik dan paling bagus akibatnya”(QS. 4: 60).

Ayat ini dengan jelas memerintahkan kepada umat Islam agar mentaati dan melaksanakan perintah-perintah Allah dan Nabi Muhammad saw (Al Quran, Sunnah dan Hadist). Selain itu menegaskan untuk taat kepada hukum Negara dimana pun mereka berada. Terlepas bahwa Negara itu dikuasai oleh orang muslim atau non-muslim dan Negara itu menggunakan hukum Islam atau bukan. Akan tetapi jika ada satu aturan Negara yang terjadi perselisihan di antara warga umat Islam, dalam keadaan tersebut seorang muslim akan mengedepankan Allah dan Rasul-Nya.

Misalnya, ada banyak Negara melegalkan perjudian. Namun demikian, sebagai umat Islam tetap tidak boleh melakukan perjudian.

Karena ajaran Islam bersifat abadi, maka tidak terbatas  suatu waktu dan tempat tertentu. Ini adalah suatu klaim yang sangat tinggi. Untuk membuktikannya, keberatan-keberatan terhadap ajaran Islam perlu jawaban yang masuk akal dan dapat diterima hati nurani.

Sebelumnya, perlu dipahami bahwa setiap perintah ajaran Islam mempunyai hikmah dan tujuan tertentu. Ada yang sangat jelas secara rinci. Ada yang dibahas hanya secara prinsip. Sebagian berlaku untuk setiap keadaan dan sebagian berfungsi dalam kondisi tertentu. Jika kita mendalami tujuan-tujuan dan hikmah-hikmah tersebut, semua pertanyaan akan terjawab.

Dalam urutan, untuk meneliti sumber hukum Islam (Al Quran, Sunnah dan Hadist). Otentitas Al Quran adalah yang utama. Karena ini adalah wahyu Allah swt yang masih utuh sama seperti di masa  Nabi Besar Muhammad saw hingga kini.

Banyak pengkritik besar agama Islam, orientalis semacam William Miuer dan Noldeke juga mengakui bahwa Al Quran yang ada ditangan umat Islam saat ini adalah persis sama dengan apa yang dituliskan pada masa Nabi Muhammad saw masih hidup. Al Quran pun mengklaim, “Inilah Kitab (yang sempurna), tidak ada keraguan di dalamnya…” (QS. 2: 3). Allah swt menjamin keaslihannya, “Sesungguhnya, kamilah yang telah menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya kamilah penjaganya” (QS. 15 : 10).

Sumber hukum Islam kedua adalah Sunnah. Sunnah berbeda dengan Hadist. Sunnah adalah amalan sehari-hari Yang Mulia Nabi Muhammad saw. Yang berjalan terus sejak kenabian hingga wafatnya. Sunnah itu sudah tersebar di dalam kalangan umat sejak awal dan umat sudah mengikutinya, walaupun belum terkumpulnya Hadist.

Salah satu contoh Sunnah adalah sholat lima waktu sehari beserta rakaatnya. Meskipun di dalam Al Quran tidak dijelaskan rincian waktu sholat dan rakaatnya. Umat sudah melaksakan sholat lima waktu sehari dengan rakaat sejak diwajibkan.

Hadist adalah sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. Yang dikumpulkan oleh ulama-ulama besar kurang lebih 150 tahun setelah kewafatannya. Di masa Nabi Muhammad saw masih hidup, para sahabat menuliskan Hadist-hadist beliau saw. Tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan menghapusnya, dengan tujuan supaya wahyu Al Quran tidak tercampur dengan Hadist.

Karena perintah ini dimaksudkan untuk kondisi tertentu maka para ulama-ulama belakangnya tidak salah kalau mengumpulkan dan mendokumentasikan Hadist-Hadist.

Benar juga bahwa di dalam Hadist-Hadist ada unsur keraguan karena beberapa faktor. Walau pun demikian, ada banyak sekali Hadist-Hadist yang penuh dengan kebenaran dan mutiara-mutiara kebijakan yang menjadi solusi hukum Islam.

Dengan alasan-alasan tersebut Al Quran akan jadi hakim untuk menimbang kebenaran Sunnah dan Hadist.

Seandainya satu Hadist dalam pandangan umum bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah. Kita akan mencari tafsir Hadist itu sesuai tujuan Al Quran dan Sunnah. Tetapi kalau tidak ditemukan persusuaian dengan Al Quran dan Sunnah. Hadist tersebut jelas berlawanan dengan Al Quran maka kita akan tinggalkan riwayat tersebut. Walaupun para ahli Hadist mengkatagorikannya  sebagai Hadist shahih.

Dan sebaliknya, seandainya suatu Hadist dikatagorikan para ahli Hadist sebagai Hadist Dhaif tetapi pada kenyataannya Hadist itu bersesuaian dengan Al Quran maka kita akan terimanya sebagai Hadist Shahih.

Banyak perselisihan di dalam hukum Islam bisa diselesaikan dengan menggunakan metode tersebut.

Sebagai salah satu contoh adalah hukuman mati untuk seorang murtad (keluar dari agama Islam). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman lagi, kemudian kafir, kemudian semakin bertambah dalam kekafiran, Allah tidak akan pernah mengampuni mereka dan tidak pula akan menunjuki mereka jalan lurus” (QS. 4:138).  Menurut ayat ini, berkali-kali, bisa keluar dan masuk agama Islam. Tidak ada sanksi apa pun untuk seorang ‘murtad’ di dunia ini. Urusanya langsung dengan Allah swt.

Sekarang bagaimana dengan Hadist-Hadist yang menentukan hukuman mati untuk seorang murtad? Sabda Nabi Muhammad saw tidak mungkin akan berlawanan dengan firman Allah swt. Maka, dengan prinsip-prinsip di atas tadi, Hadist tersebut akan ditafsirkan sesuai Al Quran. Tetapi kalau tafsiranya tidak cocok dengan Al Quran; firman Allah-lah yang menjadi pegangan.

Agar terjadi kecocokan  tafsir riwayat-riwayat tersbut dengan Al Quran. Kata ‘murtad’ tidak bisa diartikan secara umum. Tetapi dikhususkan untuk orang-orang  yang pindah agama kemudian memberontak terhadap Negara. Angkat senjata dan tidak patuh terhadap pemerintahan yang sah. Seperti yang terjadi di masa khalifah Islam pertama(Abu Bakar ra).

Dalam kasus ini, sebenarnya sanksi bukan atas kemurtadan terhadap agama.  Tetapi memberontak terhadap pemerintahan yang sah.

Di masa kini pun pemberontakan seperti ini dilawan oleh setiap pemerintah dengan tindakan-tindakan yang keras demi keutuhan kedaulatan Negara dan keamanan masyarakat.

Selanjutnya mari kita lihat, satu per satu, keberatan-keberantan yang umumnya dilontarkan terhadap hukum Islam,

Sikap Islam mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender)

Untuk menjawab hal ini perlu memahami hikmah hidup berpasangan.

Allah swt menganugerahkan setiap kemampuan, fisik atau mental, kepada manusia dengan tujuan-tujuan yang sangat positif dan agung. Agama Islam mengharapkan kemampuan itu bisa digunakan dengan cara dan tujuan yang sama .

Menurut Al Quran, hikmah yang paling utama hidup berpasangan adalah mempunyai keturunan. Supaya umat manusia keturunannya terus berkelanjutan. Jika hidup berpasangan tidak bisa memungkinkan mempunyai keturunan, pasti sewaktu-waktu keturunan umat manusia akan musnah.

Di negara-negara di mana pasangan memilih tidak mempunyai keturunan, sewaktu-waktu penduduk di sana akan berkurang sampai angka yang membahayakan. Oleh karena itu ada Negara di mana pemerintahnya mendukung warganya mempunyai anak keturunan. Salah satu contohnya adalah tetangga kita Singapore.

Untuk mempunyai keturunan, pasangan pasti mengadakan hubungan intim. Aktifitas ini penuh dengan suatu kenikmatan juga. Tujuan terakhir dari kegiatan sexual ini bukan saja mencari kenikmatan. Kenikmatan hanya sebagai faktor pendorong agar perbuatan ini tidak membosankan, berjalan terus sampai  mendapat tujuan terakhir yang sangat mulia; yaitu adalah mempunyai keturunan. Oleh karena itu Islam hanya mengizinkan berpasangan suami-istri(pria-wanita).

Pandangan Islam terhadap pasangan suami-istri ini didukung oleh ilmu medis juga. Menurut “American College of Pediatricians” hubungan sesama jenis (LGBT) mempunyai beberapa resiko kesehatan yang sangat tinggi. Diantaranya :

  • Penyakit-penyakit yang menular melalui hubungan sex (Sexualy Transmitted Diseases), terutama HIV, AIDS
  • Gangguan Kejiwaan (Mental Disorders)
  • Luka-luka fisik (Physical Injuries)
  • Usia hidup berkurang (Shortened Life Span)

Hikmah kedua, setelah mempunyai keturunan, adalah bahwa suami dan istri mendidik  keturunannya dengan cara Islami yang baik. Supaya dia menjadi orang yang bermanfaat untuk ummat manusia dan kepada sang Penciptanya.

Menurut ilmu medis, sosok ayah dan ibu, keduanya sangat dibutuhkan untuk mendidik anak. Masing-masing mempunyai tugas yang sangat penting. Bukan setelah lahir saja, bahkan ketika masih dalam kandungan pun, proses ini sudah dimulai. Kesehatan ibu dan ayah (jasmani maupun rohani) akan mempengaruhi janin.

Apa lagi enam bulan pertama, setelah lahir, bayi perlu diasuh oleh ibu. Hal ini sangat penting demi kesehatan bayi sepanjang hidup. Al Quran juga menyarankan memberikan air susu ibu (ASI) untuk bayi (maksimal dua tahun). Susu formula apa pun tidak ada yang dapat menyamakan kesempurnaan ASI. Dalam hal ini perlu kelahiran yang alami. Cara alami jauh lebih hemat,mudah, praktis dan higienis dibanding metode-metode lain. Ini penting juga, sebagai ikatan batin dan psikologi, antara Ibu dan anak. Bisa dipakai siapa saja, dimana saja. Ini juga salah satu bukti bahwa ajaran Islam adalah universal dan sepanjang zaman.

Menurut satu penelitian, anak-anak yang akan tingal bersama pasangan sesama jenis  selalu dibawa ancaman pelecehan sexual lebih tinggi dibanding pasangan hetero. Seorang homo bisa ganti pasangan lebih dari 1000 kali. Kesetiaan homo terhadap pasangan hanya 4.5% dibanding pasangan hetro; perempuan 85% dan Laki-laki 75.5%).

Selain pertimbangan moral, logis, dan medis diatas, Al Quran secara sangat jelas tidak menyetujui dengan perilaku LGBT. Bahkan di dalam cerita kaum Nabi Luth as, perbuatan ini dinamakan sebagai hal yang “keji”dan“dibenci”. Oleh karena itu, Allah swt menimpakan azab kepada mereka (QS.7: 81-85,  QS.26: 166-175).

Surah An Nisa: 16-17, “Dan perempuan-perempuan yang melakukan perbuatan keji maka carilah emapat orang saksi(mata) terhadap mereka dari antaramu. Lalu jika mereka memberi kesaksian maka tahanlah perempuan-perempuan itu di dalam rumah hingga datang kematian kepada mereka, atau Allah membukakan suatu jalan(lain) untuk mereka. Dan jika dua orang laki-laki di antara kamu melakukan perbuatan keji, maka hukumlah(fisik) keduanya. Tetapi jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah kedua mereka itu; sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang”. Dua  ayat ini tidak hanya menolak perbuatan tersebut, bahkan menentukan hukum secara prinsip.

Selain agama Islam, agama-agama samawi lainnya juga tidak mendukung perbuatan tersebut. (Imamat 18/22, Roma 1/24-28)

(Bersambung)

 

Komentar