Home » Editorial » Allah Bukan Orang Arab. Allah Pencipta Orang Arab.
Menteri Agama Lukman H. Saifuddin membuka Tilawatil Quran di Sulawesi Tenggara

Allah Bukan Orang Arab. Allah Pencipta Orang Arab.

Oleh Ade Armando*

Dalam beberapa hari terakhir ini, ada penyebaran fitnah melalui media sosial bahwa saya menyamakan Tuhan dengan manusia.

Itu tentu saja tuduhan keji. Saya mendoakan mereka yang menyebarkan fitnah itu dapat dibukakan hati dan dimaafkan oleh Allah. Doa ini diperlukan karena fitnah pada dasarnya adalah sebuah kejahatan yang bahkan sering dikatakan sebagai ‘lebih kejam dari pembunuhan’. Jadi daripada para pemfitnah itu masuk neraka, lebih baik saya doakan agar Allah memaafkan mereka.

Saya anggap saja, para penyebar fitnah itu sebenarnya tidak jahat.

Penyebaran fitnah itu terjadi setelah saya membuat status di Facebook saya (20 Mei 2015) untuk mengomentari pernyataan Menteri Agama bahwa dia akan membuat festival membaca Al Quran dengan berbagai langgam yang ada di Nusantara.

Bagi saya, ide Menteri Agama itu adalah gagasan yang hebat dan perlu didukung. Saya selalu percaya bahwa ayat-ayat Allah yang termuat dalam Al Quran harus disampaikan pada masyarakat luas melalui beragam cara. Tidak ada satu cara tunggal untuk menyampaikan kalam Allah. Orang Arab menyampaikannya dengan cara Arab, orang Jawa dengan cara Jawa, dan orang Swedia dengan cara Swedia (Anda bisa tambahkan sendiri contoh-contoh lain).

Al-quran seriosaBegitu juga media penyampaiannya. Bisa dengan mengaji di surau, MTQ, barzanji, qasidah tapi juga dengan langgam Jawa, Sunda, Minang, musik pop, rock, seriosa atau hiphop. Dan bukan cuma itu, ayat-ayat Allah itu bisa disampaikan melalui novel, film, sinetron, teater, komik, meme, atau kalau perlu game online.

Tentu tak ada sesuatu yang baru dengan ini semua. Islam menyebar di Indonesia melalui   media lokal tradisional.

Masalahnya memang saat ini ada sebuah gejala yang mengganggu. Ada kelompok-kelompok dalam masyarakat yang terus menyuarakan gagasan bahwa kebudayaan Islam adalah kebudayaan Arab. Gejala kearab-araban itu terlihat dari gaya berpakaian, gaya bicara, gaya berkesenian atau juga gaya berpikir. Gejala ini berlangsung akibat propaganda internasional kaum Wahabi di Saudi Arabia yang dalam beberapa dekade terakhir berusaha menjadikan Kerajaan Saudi Arabia sebagai pusat Islam dunia.

Dalam kasus tertentu di Indonesia, ada pemuka agama yang mengubah nama domestiknya menjadi nama Arab. Atau ada politisi yang dengan sengaja menggunakan segenap atribut kearaban utuk membangun citra kesolehan dia. Semua berasal dari cara pandang, Islam adalah Arab.

Dalam konteks inilah, gagasan Menteri Agama layak disambut gembira. Di satu sisi, ayat-ayat Allah bisa menyebar lebih luas dengan memanfaatkan kedekatan budaya dengan masyarakat yang beragam. Di sisi lain, ini menjadikan Islam sebagai agama universal yang tidak terpusat pada segala sesuatu yang berbau Arab.

Karena itu saya menulis di status saya:    “Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop, Blues …”

Status ini ternyata mendapat respons luar biasa. Sampai 22 Mei, tercatat ada 560 komentar, dan status itu di-share 123 orang.

Hanya saja, ternyata ada banyak pihak yang memfitnah bahwa dalam status FB itu saya menyatakan bahwa “Allah adalah orang”.

Siapapun yang membaca kembali status itu tentu paham bahwa tidak ada satu pun kalimat dalam status itu yang menunjukkan bahwa saya menyamakan Allah dengan orang.

Jelas-jelas saya menyatakan : “Allah itu kan bukan orang Arab”. Mereka yang berpikiran jahat tentu bisa saja memelintir logika pembaca dengan mengatakan bahwa dengan demikian saya menyatakan bahwa Allah itu pada dasarnya orang, tapi bukan orang Arab.

Ade Armando-1Logika semacam itu tentu saja lemah. Kalau saya menyatakan bahwa teman saya ‘bukan monyet gila’ itu tidak berarti saya mengatakan bahwa teman saya itu ‘monyet waras’. Sederhana!

Jadi yang saya maksudkan dengan status saya itu simpel. Saya ingin mengatakan bahwa marilah kita mendukung upaya penyebaran ayat-ayat Allah dengan beragam cara dan budaya, tanpa harus selalu kearab-araban. Yang senantiasa menganggap Arab itu superior ya orang Arab sendiri. Nah karena Allah jangan disamakan dengan orang, apalagi orang Arab, marilah kita tidak kuatir bahwa Allah akan tersinggung kalau ayat-ayat-Nya disampaikan dengan gaya Jawa, Ambon, Minang, Cina atau mungkin blues dan hiphop (yang sedang digandrungi anak muda abad 21).

Gagasan itu sederhana. Namun saya duga memang ada upaya sengaja untuk menyerang saya, dan mungkin situs madinaonline yang saya pimpin, dengan menyebarkan fitnah keji itu.

Saya yakin ada banyak komentator dalam situs saya yang memang tidak membaca dengan seksama kalimat saya dan terperangkap dengan fitnah bahwa saya menyamakan Allah dengan orang.

Saya kutipkan sejumlah komentar di FB saya:

“Astagfirullah terkutuk lah dikau bpk Ade, yg telah menyamakan Allah dg makhluk. Apa dasarnya dikau berkata begitu ?”

“Masalahnya pak Ade ini kok bilang Allah kok orang!!!!!…..”

“Allah SWT itu Zat yg Agung, bukan orang atau manusia rendah seperti kita. Tolong di koreksi ya”

“Dasar bego , yng ngomong pakai dengkul ! Allah disamakan dgn ciptaannya. Tolol. Bego. Stupid. Pakak. Pandia. Idiot. Snewen. Teller. Mati akal.”

“Tuhannya Ade armando kan manusia, jadi dia kira Tuhan nya umat Islam juga manusia hahahaha … Woeee dosen dongo, Tuhannya orang Islam itu yang menciptakan Nabi Isa a.s dan menciptakan alam beserta isinya”

Lebih parah lagi, para komentator FB yang nampaknya beragama Islam juga menumpahkan cacimaki dengan cara sangat kasar, misalnya:

“Anjing Lebih mulia drpda Anda….!!!”

“Tidaklah keluar ucapan seperti itu dari lisan seseorang kecuali dia anak hazil zina”.

“S3 boleh nyogok nih…goblok dari orang goblok…istighfar..”

“Ini org manusia apa iblis?”

“Incar orang ini. Kalau masih mengulangi ke”tolol”annya, tangkap potong lidahnya…Biar orang2 gak jadi sesat gara2 dia.”

“Kenapa anjing ini kok bisa jadi dosen ya, lalu mahasiswanya jadi “kirik” apa ya?”

“Ini anjing siapa yang lepas dan dosen dari univ mana itu mahasiswa nya juga guoblok punya dosen mulutnya mirip anjing kalo gonggong gak ada saringan dasar dosen anjing.”

“Lu makan aja Babi Ade, itu dimakan orang primitif dan suku tertentu ya, sekalian taiknya…”

“Rumahnya dimana nih orang… Kalau ketemu di jalan gw paprak ni mukenya make balok…”

“Kebanyakan makan tai anjing dan minum air bekas cebok jokowi si Ade Armando makanya GOBLOK melebihi binatang cacat”

“Dosen bangsat.. Mulutmu minta disobek pake clurit.”

“TOLONG CATAT BERAPA LAMA ORANG INI BERTAHAN HIDUP DARI SEMENJAK DIA BIKIN STATUS INI !!!”

“Jika aku dekat dengan kamu sedekat 2 jari di situlah aku akan membunuh mu karena ALLAH…”

“Orang ini darahnya halal.”

“Hoiii…… DAJJAL, Nyawa kamu cuma satu tolong di jaga baik2 yaaa.. Saya orang penakut tapi kalau buat bunuh kamu saya masih sanggup demi keyakinan saya…”

Itu baru dari FB saya. Yang beredar melalui media sosial lain, sama mengerikannya.

Ini tentu saja menunjukkan betapa mudahnya orang menyebarkan fitnah dan kemudian menyulut kemarahan orang dengan fitnah-fitnah itu. Bagaimanapun, sebagai orang Islam, cara terbaik yang bisa saya lakukan adalah memaafkan saja penyebaran fitnah itu dan mendoakan agar para penyebar fitnah dan kebencian itu terbuka hatinya.

Allah Maha Tahu dan Maha Adil.

* Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia

 

Komentar