Home » Editorial » Aksi 2 Desember Layak Dilarang, karena Sasaran Rizieq adalah Menghancurkan Demokrasi

Aksi 2 Desember Layak Dilarang, karena Sasaran Rizieq adalah Menghancurkan Demokrasi

oleh Ade Armando

Apakah pelarangan aksi unjuk rasa pada 2 Desember 2016 adalah sebuah langkah anti demokrasi?

Tentu saja tidak.

Ada banyak penjelasan. Tapi salah satu yang penting adalah: orang seperti Rizieq Shihab atau organisasi seperti FPI atau HTI memang layak dilarang untuk berunjuk rasa, karena mereka pada dasarnya anti demokrasi dan bahkan ingin menghancurkan demokrasi.

Hak untuk berunjuk rasa dijamin karena Indonesia percaya pada demokrasi. Masalahnya, Rizieq, FPI, HTI anti demokrasi. Jadi buat apa mereka diberi hak yang hanya ada dalam demokrasi?

Saya tidak mengada-ada.

Saya berikan pada Anda link tulisan di website resmi Rizieq, www.habibrizieq.com, berjudul ‘Islam versus Demokrasi’..

Dalam tulisan itu (http://www.habibrizieq.com/2015/01/islam-versus-demokrasi.html), Rizieq menyatakan rangkaian hal, antara lain:

  1. Sistem Demokrasi hanya melahirkan diktator, menghasilkan koruptor kelas kakap, bahkan menciptakan kapitalis-kapitalis internasional yang rakus dan serakah
  2. Sistem Demokrasi adalah sumber problem yang banyak melahirkan gerombolan mafioso dan generasi oportunis, sekaligus merupakan wadah tempat bersemayamnya anjing-anjing penjilat kekuasaan.
  3. Sistem Demokrasi merupakan sumber malapetaka dan kehancuran.
  4. Sistem Demokrasi penuh intrik dan tipu muslihat
  5. Sistem Demokrasi tidak berperikemanusiaan
  6. Sistem Demokrasi tidak menghargai kesetaraan
  7. Sistem Demokrasi tidak adil

 

Setelah menguraikan rangkaian ‘borok’ sistem Demokrasi itu, Rizieq menyatakan karena itu umat Islam harus menolak demokrasi dan membangun apa yang disebut sebagai Sistem Islam yang melandaskan diri pada Syariah.

Menurutnya, sistem Islam dan sistem Demokrasi mustahil disatukan. Dalam pandangan Riziq, Sistem demokrasi merupakan penentangan terhadap agama, sehingga penerapannya hanya akan mendatangkan dosa dan malapetaka.

Di bagian akhir tulisannya, Rizieq menyatakan: “Akhirnya, kita harus berani mengatakan : Islam Yes Demokrasi No ! Hidup Islam Hancurlah Demokrasi ! Allahu Akbar !”

Tulisan Rizieq itu rasanya cukup untuk menjadi bukti bahwa tujuan akhir orang seperti Rizieq Shihab adalah menghancurkan demokrasi. Wajar bila di mata Rizieq, pemerintahan yang ada saat ini adalah pemerintahan yang harus digulingkan karena  dilahirkan dari sistem yang ‘penuh dosa dan malapetaka’.

Mengalahkan Ahok adalah sasaran antara. Menggulingkan Jokowi adalah sasaran antara. Sasaran utama mereka cuma satu: Menghancurkan demokrasi.

Komentar