Home » Bina-Damai » Pilihan Lukman Sardi Pindah Agama Harus dihormati, karena ‘Tidak Ada Paksaan dalam Agama’

Pilihan Lukman Sardi Pindah Agama Harus dihormati, karena ‘Tidak Ada Paksaan dalam Agama’

Oleh Ade Armando*

Artis terkemuka Lukman Sardi memutuskan untuk berpindah agama dari Islam menjadi pemeluk Kristen. Ini menjadi berita besar karena memang jarang ada selebritis di Indonesia yang menyeberang dari Islam ke Kristen. Kalau yang pindah menjadi Islam banyak. Dan itu lazim dirayakan oleh banyak pihak. Karena itu, menggunakan istilah sebuah media, perpindahan agama Lukman Sardi ‘menggegerkan’.

Marilah kita berharap tidak ada konsekuensi negatif yang dialami  Lukman. Marilah kita berharap Lukman akan berbahagia dan membawa kebahagiaan dengan pilihannya.

Dalam Islam, perpindahan agama adalah sebuah langkah yang dimungkinkan. Salah satu ayat Al-Quran terkenal yang kerap digunakan untuk menyatakan bahwa langkah itu dibenarkan adalah : ‘Tidak ada Paksaan dalam Agama’ (Al Baqarah: 256).

Lukman Sardi-1Memang sebagian kalangan menganggap perpindahan agama semacam itu bukan saja tidak dapat dibenarkan tapi bahkan layak dihukum mati. Kalangan ini menganggap ‘murtad’ sebagai kejahatan yang tidak terampunkan  dan harus dibayar dengan nyawa. Mereka umumnya merujuk pada sebuah hadits bahwa Nabi Muhammad pernah memerintahkan seorang muslim yang murtad (keluar dari Islam) untuk dihukum mati.

Namun hadits itu lazim dianggap sebagai hadits yang lemah. Sebagian penasfir lain menganggap perintah membunuh orang murtad itu memang pernah dikeluarkan Nabi tapi dalam konteks khusus. Ketika itu kaum muslim yang masih dalam keadaan lemah sedang berperang melawan kaum non-muslim, sehingga perpindahan agama dianggap sebagai langkah pengkhianatan yang membahayakan pasukan muslim. (baca juga: Hukum Membunuh Orang Murtad)

Dengan demikian, umumnya ulama menganggap yang harus digunakan sebagai rujukan adalah ayat Al-Quran yang jelas datang dari Allah bahwa, ‘Tidak ada paksaan dalam agama’. Bila benar Allah mengatakan beragama tidak boleh dipaksa, keputusan untuk pindah agama adalah sesuatu yang harus dihormati.

Dalam sejarah, penyebaran Islam memang dicirikan oleh sebuah karakter yang khas: pasukan Islam atau para penguasa Islam dilarang untuk memaksa orang untuk memeluk Islam. Dengan demikian, sangat jelas bahwa menjadi Islam adalah sebuah keputusan yang sangat bersifat pribadi dan harus dilakukan dengan sukarela. Bila ISIS saat ini dikenal dengan praktek pemaksaan orang masuk Islam, itu adalah ciri keterbelakangan ISIS. Para penguasa Islam dalam sejarah yang panjang umumnya tidak melakukan pemaksaan semacam itu.

Sebagian orang bisa saja berargumen kosong bahwa ayat Al-Quran itu hanya menyatakan bahwa orang tidak boieh dipaksa masuk Islam, tapi itu tak berarti kita tak boleh melarang orang keluar dari Islam. Argumen semacam itu tentu dangkal, karena prinsipnya yang dibenarkan dalam ayat itu adalah ‘berada di luar Islam’.

Dalam Islam, soal keyakinan beragama adalah soal pribadi. Pencarian kebenaran sejati dalam hidup setiap manusia adalah perjalanan yang harus dipertanggungjawabkan masing-masing orang di Hari Akhir nanti. Tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang berhak mewakili Allah untuk memaksakan keyakinan. Allah tidak marah bila ada orang memilih bukan Islam. Itu adalah keputusan masing-masing orang.

Dengan demikian keputusan Lukman Sardi adalah keputusan yang harus sepenuhnya dihormati dan bahkan dilindungi. Umat Islam yang baik akan mendoakan Lukman untuk memperoleh kebahagiaan dan kebanaran dalam pilihannya. Umat Islam yang jahat akan marah, mencaci maki dan mungkin menyerangnya.  Mudah-mudahan di Indonesia ada lebih banyak umat Islam yang baik daripada yang jahat.

*Pemimpin Redaksi Madina Online dan Dosen komunikasi FISIP Universitas Indonesia

Sumber foto:

1. liputan6.com

Komentar