Home » Bina-Damai » Orang Yahudi dan Nasrani Tak Semuanya Sama

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 120, Allah berfirman:


وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَہُودُ وَلَا ٱلنَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَہُمۡ‌ۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Terjemahan Depag, 1985).
 

Orang Yahudi dan Nasrani Tak Semuanya Sama

Pada beberapa kutbah Jumat, penulis sering mendengar penceramah mengutip ayat di atas. Biasanya sang penceramah mengutip ayat di atas kala media, baik elektronik maupun cetak, sedang ramai memberitakan tindakan brutal tentara Israel kepada masyarakat sipil di Palestina. Atau ketika Amerika Serikat, yang saat itu dipimpin Bush Junior, lagi senang-senangnya mengempur negara yang diidentikan sebagai negara Muslim, seperti Irak dan Afganistan, atas nama perang melawan terorisme.
Dalil Al-Quran di atas dijadikan para penceramah agama sebagai alat untuk memprovokasi umat tanpa memberitahukan kepada pendengarnya apa yang melatari ayat di atas diturunkan. Ayat di atas kemudian dibaca sembarangan sehingga yang terbayang dalam benak umat adalah semua orang Israel dan Nasrani tidak akan senang kepada umatnya nabi Muhammad sampai kapan pun, hingga mereka mengikuti agama dua saudara tua mereka.
Dengan pembacaan sembarangan tersebut, maka tidak heran bila sebagian masyarakat Muslim di Indonesia pernah suatu saat membuat gerakan untuk memboikot segala produk yang berasal dari Amerika Serikat. Bahkan, karena dasar ayat di atas, negara ini ditekan oleh sebagian masyarakat Muslim di Indonesia untuk tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Ekses dari provokasi itu tidak hanya ke luar tapi juga mengendap di dalam negeri. Konflik-konflik yang sebenarnya bukan karena isu agama atau yang mungkin karena isu agama seperti dikompori. Bukannya membiarkan aparat keamanan melakukan tugasnya untuk menyelesaikan konflik, sebagian kelompok Muslim yang diprovokasi malah mengambil alih fungi aparat. Dan ini tentu tidak baik bagi kehidupan beragama di Indonesia.
Untuk tidak membaca sembarangan ayat di atas, penulis merujuk ke beberapa ahli tafsir, seperti Ibn Katsir, Jalaluddin al-Suyuthi, al-Maraghi, dan terakhir M. Qurasih Shihab. Dan sebelum itu, penulis akan mengutip sebab-sebab turunnya ayat itu (asbab al-nuzul) dan menjelaskan secara singkat beberapa kata kuncinya.
Berbagai Versi Turunnya
Dalam kitabnya, Asbab al-Nuzul, Abu Hasan Ali ibn Ahmad Al-Wahidi al-Naisaburi mencatat ada dua versi yang melatari turunnya ayat ini. Versi pertama yang dicatat ulama yang berasal dari daerah yang sama dengan Imam Muslim dan Imam al-Baihaqi (keduanya ulama hadis) ini, ialah suatu ketika orang Yahudi dan Nasrani bertanya kepada Nabi Muhammad tentang petunjuk yang beliau bawa dari Allah agar mereka bisa mempertimbangkan apa mereka nanti akan beriman kepada beliau atau tidak. Namun mereka tidak serius dengan pertanyaan tersebut dan hanya ingin mempermainkan nabi, maka tidak lama turunlah ayat di atas. (Dar al-Fikr, 1988, 25)
Versi kedua ia kutip dari Ibn Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini berkaitan dengan kiblat. Saat itu orang Yahudi dan Kristen Najran mengharapkan agar nabi salat menghadap ke masjid al-Aqsa di Palestina. Lalu Allah mengubah arah kiblat ke Masjid al-Haram di Mekkah. Karena orang Yahudi dan Kristen Najran tidak suka dan putus asa membujuk nabi agar mengikuti agama mereka, maka turunlah ayat ini.
Dalam kitab ini memang tidak disebutkan secara eksplisit kapan dan di mana ayat ini diturunkan. Tapi sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa seluruh ayat dalam Surat Al-Baqarah diturunkan di Madinah. Dan ini menjadi masuk akal dengan melihat kalangan yang beroposisi dengan nabi saat itu: orang Yahudi dan Nasrani. Di Mekkah yang beroposisi dengan nabi adalah penguasa dari suku Quraish.
Kata-kata Kunci
Kata Yahudi disebutkan sebanyak sembilan kali dalam Al-Quran. Delapan kali dibarengi dengan kata Kristen, dan satu kali sendiri. Al-Baqarah (2): 113, 120, Ali Imran (3): 67, Al-Maidah (5): 18, 51, 64, 82, Al-Taubah (9): 30.
Menurut pengamatan Quraish Shihab, kata Yahudi hanya digunakan Al-Quran dalam konteks kecaman kepada kelompok tertentu dari Bani Israel. Dengan demikian maka wajar jika ayat di atas menggunakan redaksi yang menginformasikan bahwa mereka tidak akan rela selama-lamanya kepada nabi.
Kata Nasara (bentuk jamak dari Nasrani) disebutkan 12 kali dalam Al-Quran bersama kata Yahudi, dan dua kali sendiri. Al-Baqarah (2): 22, 111, 113, 120, 135, 140, Al-Maidah (5): 14, 18, 51, 69, 82, Al-Taubah (9): 30, Al-Hajj (22): 17. Sedangkan kata Nasrani hanya sekali digunakan, Ali Imran (3): 67. Menurut Shihab, Al-Quran menggunakan kata Nasrani atau Nashara untuk merujuk kepada sekelompok Bani Israel yang bersahabat dengan kalangan Muslim. (lihat al-Maidah [5]: 82).
Najran adalah kota utama di semanjung Arabia pada zaman kuno. Letaknya di bagian utara Yaman. Kota ini merupakan pusat perdagangan, industri, dan pertanian. Dilaporkan bahwa penduduk Kristen awal datang dari Hira pada abad ketiga Masehi. Minoritas Kristen yang mendirikan kongregasi di Najran berasal dari Byzantium Syria dan Etiopia. Monofisitisme merupakan denominasi yang termuka di antara mereka. Dan semua inilah yang menjadikan Najran sebagai pusat Kristen di Arabia Selatan.
Najran dianggap kota suci bagi orang Kristen Arab pada masa itu selain Edessa di Mesopotamia, Etchmiadi di Armenia, dan Axum di Etopia. Tokoh yang terkenal dari kalangan Kristen Najran yang juga menjadi pemimpin suku-suku Arab adalah al-Harits ibn Ka’b. (Asep Lalu Iqbal, 2004, 148 & 152).
Millah disebutkan sebanyak 15 kali dalam Al-Quran. Dari 15 kali penyebutan, tujuh kali merujuk kepada millah Ibrahim dan millatakum atau millah kalian disebutkan lima kali serta millatana atau millah kami disebutkan tiga kali. Dalam Al-Quran, millah Ibrahim selalu dikaitkan dengan millah yang lurus atau hanif dan millah kalian atau millah kami yang merujuk kepada millah sebuah komunitas selalu dikontraskan dengan millah Ibrahim.
Imam Maraghi dalam karya tafsirnya membedakan pengertian antara millah dan agama. Menurut mantan rektor Univeritas Al-Azhar ini, millah adalah jalan-jalan yang disyariatkan untuk para hamba. Sedangkan agama ialah syariat yang dibukukan atau diformalkan oleh para nabi. Pengertian lain mengatakan bahwa millah adalah salah satu bagian dari agama: keyakinan terdalam dan keteguhan diri untuk menyakini sesuatu.
Ragam Tafsir Para Ulama
Untuk menafsirkata ayat di atas, Ibn Katsir merujuk perkataan Ibn Jarir. Menurut Ibn Jarir yang dimaksud dengan ayat di atas ialah ‘Wahai Muhammad, orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu kecuali jika kamu mengikuti apa yang mereka sukai dan mereka setujui’. (lihat Tafsir ibn Katsir yang diterjemahkan Gema Insani Press pada 1999, halaman 211).
Jalaluddin al-Suyuthi dalam karya tafsirnya, Al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur, menulis hal yang sama mengenai sebab turunnya ayat di atas versi kedua. Yang berbeda hanyalah sumber yang mengatakan tidak langsung dari Ibn Abbas tapi melalui al-Tsa’labi. (lihat Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1990, halaman 209).
Dalam karya tafsirnya, Imam Maraghi mengatakan bahwa nabi sangat mengharapkan agar Ahl al-Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani beriman kepada beliau dan wahyu yang diterimanya. Namun orang Yahudi dan Nasrani sulit menerima dakwah yang disampaikan beliau. Karena nabi putus asa dengan sikap mereka yang kekeh untuk tidak mau menerima ajakan nabi, lalu turunlah ayat di atas. (Multazam al-Tab’ wa al-Nasyr, 1978, 203)
Sebelum menafsirkan ayat ini, M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, menjelaskan kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya (119). Menurut Quraish, ayat sebelum ayat di atas sengaja diturunkan untuk menghilangkan kerisauan nabi yang disebabkan karena orang-orang Yahudi enggan menerima kabar gembira dan peringatan yang beliau dapatkan dari Tuhan. Dan ayat sebelum ayat di atas juga dengan tegas mengatakan bahwa beliau tidak akan dituntut untuk bertanggung jawab atas keengganan mereka tersebut.
Lebih lanjut Quraish mengatakan bahwa nabi dikenal sangat ingin agar seluruh manusia mengikuti petunjuk dari Tuhan yang beliau terima. Orang-orang yang beriman sangat rela dan senang menerima kabar gembira dan peringatan dari nabi, tapi bagi sebagian orang-orang Yahudi dan Nasrani sangat sulit kecuali jika petunjuk itu berasal dari agama yang mereka anut. Dan ini tentu tidak mungkin beliau lakukan.
Menurut Muhammad Sayyid Thantawi, seperti yang dikutip Quraish, term ‘hingga engkau mengikuti agama mereka’ adalah kinayah, yakni tidak menyebutkan secara tegas apa yang dimaksud tapi menyebut sesuatu yang lain yang dapat mengantar kepada apa yang dimaksud. Redaksi ini menggambarkan keputusasaan menyangkut kemungkinan Ahl al-Kitab memeluk agama Islam. Jadi, ayat ini tidak dapat dijadikan dalil bahwa bahwa Ahl al-Kitab berusaha untuk mengkristenkan umat Islam apalagi meyahudikan umat Muhammad. Kalaupun ada yang berusaha untuk maksud itu mungkin saja, tapi ayat di atas bukan ayat yang berbicara tentang hal tersebut.
Ayat di atas memang menggunakan redaksi lan, yang menunjukkan kepastian yang berlanjut terus-menerus, tidak rela kepadamu (sepanjang masa), tapi sejarah mencatat banyak dari kalangan Bani Israel yang memeluk agama Islam. Dengan demikian, yang dimaksud dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam ayat di atas adalah orang-orang tertentu bukan semuanya.
Quraish juga menekankan bahwa ketika menyebut Yahudi, Al-Quran menggunakan term lan yang berarti tidak akan untuk selama-lamanya, tapi ketika menyebut Nasrani menggunakan term la yang artinya tidak namun tidak selamanya. Pembedaan ini jelas menunjukkan bahwa sikap orang Yahudi dan Nasrani tidak sama terhadap nabi dan ajaran beliau.
Tak Bisa Pukul Rata
Beberapa kesimpulan dapat ditarik dari penjelasan di atas. Pertama, pada ayat di atas dengan tegas Al-Quran mengatakan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak melulu satu suara. Keduanya mempunyai pandangan yang berbeda kepada nabi dan umat Islam. Begitu juga sikap oposisi mereka kepada nabi dan umat Islam yang kadang kala bisa berseberangan. Oposisi dalam konteks ayat ini adalah oposisi pada isu-isu teologis: wahyu yang dibawa nabi dan perubahan kiblat salat.
Kedua, ayat di atas dan ayat-ayat sebelum ayat di atas berbicara tentang sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada nabi dan umat Islam pada masa kenabian. Tentu pada waktu dan tempat yang berbeda, sikap mereka kepada umat Islam tidak selalu sama, meski tidak menutup kemungkinan ada di antara mereka yang masih seperti nenek moyang mereka.
Ada banyak contoh untuk menggambarkan bahwa tidak selamanya mereka memusuhi umat Islam. Dan contoh yang paling mutakhir adalah Rachel Corrie dan Haneen Za’bi. Yang pertama seorang Kristen dan yang kedua seorang Yahudi.
Rachel Corrie adalah gadis muda yang berjuang untuk menentang pendudukan Israel di Gaza, Palestina. Tiga bulan tinggal di Gaza adalah momen terburuk dalam hidupnya: melihat langsung pembunuhan terhadap masyarakat dan penggusuran rumah secara paksa oleh tentara Zionis Israel. Pada 2003, saat usianya 23 tahun, dia mati akibat dilindas buldozer tentara Zionis yang akan menghancurkan rumah penduduk bernama Nasrallah. Sebagai penghargaan atas jasanya bagi masyarakat Gaza, namanya kini menjadi nama jalan di Ramallah.
Haneen Za’bi adalah salah satu anggota Knesset, parlemen Israel, dari fraksi Nasional Demokrat. Dia diancam akan dibunuh setelah mengeluarkan kritikan soal penyerangan tentara Israel terhadap awak kapal Mavi Marmara sebagai tindak kejahatan. Dia tidak hanya mendapat tekanan politik di parlemen, bahkan dia pun sempat ditahan akibat protes kerasnya itu. Dan yang paling kejam adalah ancaman pembunuhan kepada keluarganya.
Bila ayat di atas masih dibaca sembarangan dengan pemahaman yang sama, “semua orang Yahudi dan Nasrani tidak rela kecuali jika umat Islam mengikuti agama mereka”, maka tentu pemahaman itu tidak sejalan dengan redaksi, hubungan antarayat, pemahaman mayoritas ulama klasik, dan fakta-fakta di lapangan. ***

Komentar