Home » Bina-Damai » Konferensi Madrid dan Keterbukaan Saudi?

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 8, Tahun 1, Agustus 2008)

Raja Abdullah mengimbau masyarakat beragama meningkatkan toleransi, menemukan persamaan dan meninggalkan perbedaan. Tanda-tanda berakhirnya konservatisme Saudi?

Ada peristiwa menarik dan penting di Madrid, Spanyol, bulan lalu. Selama tiga hari, di pertengahan Juli, berlangsung konferensi antar agama yang dihadiri sekitar 200 peserta mewakili berbagai agama besar dunia. Tujuan utamanya: berdialog demi perdamaian dunia.

Konferensi Madrid dan Keterbukaan Saudi?

Selain isinya, konferensi ini punya arti khusus karena pihak yang menyelenggarakannya. Acara ini diorganisir oleh Liga Dunia Islam, dan diprakarsai – serta didanai – Raja Abdullah, sang pemimpin Arab Saudi.

Fakta terakhir ini menjadi penting karena Saudi terkenal sebagai sebuah negara Islam yang kaya dan berpengaruh namun juga sangat kolot dan konservatif. Sampai saat ini, pemerintah Saudi melarang umat beragama non-Islam untuk menjalankan praktek peribadatan dan menampakkan simbol-simbol keagamaan di depan publik. Pendatang Kristen lazim diminta untuk meninggalkan Injil dan tanda salib di perbatasan sebelum memasuki Saudi. Tempat peribadatan yang diizinkan hanyalah masjid. Gereja – apalagi sinagog — dilarang dibangun.

Ideologi Wahabisme yang sekarang ini dinilai menjadi penyebab berkembangnya sikap eksklusif dan konservatif di banyak masyarakat muslim juga berasal dari Saudi. Bahkan banyak pihak menuduh uang Saudi menjadi dana utama gerakan-gerakan garis keras  yang tumbuh di kalangan Islam. Karena itu, kalau kini, tak kurang dari raja mereka sendiri yang memprakarsai pertemuan untuk meningkatkan toleransi antar umat, itu tentu adalah berita besar.

Pada konferensi, Raja Abdullah memang  tampil dengan sosok layaknya seorang aktivis perdamaian sejati. Di hari pertama, 16 Juli, Raja Abdullah menyampaikan pidato impresif. Ia mengimbau ‘dialog konstruktif” untuk memulai sebuah era baru rekonsiliasi setelah begitu banyak  perselisihan antara agama-agama besar dunia.

“Kita semua percaya pada satu Tuhan,” ujar Raja. “Kita bertemu di sini untuk mengatakan bahwa agama seharusnya menjadi sarana untuk mengatasi perbedaan dan bukan untuk melahirkan pertengkaran.”

“Sebagian besar dialog antar agama berakhir dengan kegagalan . . ,” kata sang raja. “Agar berhasil kita harus menegaskan kesamaan antara kita dalam kepercayaan terhadap Tuhan.”

Sambutan berbagai perwakilan agama lain juga menggembirakan. Kardinal Jean Louis Tauran – yang mewakili Paus Benedict yang harus memenuhi kewajibannya di tempat lain — menyebut konferensi ini sebagai “tindakan yang berani.”

Presiden Kongres Yahudi Dunia, Ronald Lauder, menyatakan bahwa konferensi ini merupakan perkembangan yan signifikan dan tepat waktu. “Adalah kewajiban para pemuka agama untuk bekerjasama memulihkan penghargaan terhadap nilai-nilai etika dan menghindari benturan peradaban,” katanya.

Di akhir pertemuan para peserta menegaskan komitmen mereka dengan menyepakati sebuah Deklarasi Madrid  yang pada intinya mengutuk segenap upaya dan kampanye yang mendorong tumbuhnya konflik agama, seraya mengupayakan peningkatan kerjasama dan tolerani antar umat. Salah satu butir deklarasi menegaskan bahwa peserta akan “menyebarkan budaya toleransi dan kesalingpahaman melalui dialog.”

Sekadar Manuver?
Gagasan yang dikedepankan konferensi ini memang nampak pas dengan konteks hubungan Eropa dan Islam yang kurang harmonis akhir-akhir ini. Di banyak negara Eropa ada peningkatan gelombang anti-Islam yang diwujudkan dengan gerakan anti pembangunan masjid, anti-jilbab dan bahkan pembatasan arus imigran dari Negara-negara Islam. Ada pula kasus kartun dan film yang melecehkan Nabi Muhammad dan Islam. Soal hubungan Palestina-Israel yang semakin memburuk juga terus hidup. Di sisi lain, semangat anti-Barat juga menguat di banyak masyarakat Muslim.

Bagaimanapun, tetap ada pertanyaan tersisa: mengapa inisiatif datang dari Raja Abdullah?

Mereka yang sinis menuduh ini cuma sekadar manuver sang raja untuk membangun persekutuan dengan Barat untuk berhadapan dengan kaum radikal di dalam negerinya yang menunjukkan tanda-tanda semakin menguat. Dalam beberapa tahun terakhir, Raja Abdullah memang berusaha membangun imej keislaman yang lebih moderat dan toleran, terutama sejak berlangsungnya serangan teroris di negeri mereka pada 2003-2004.

Bahwa konferensi itu diadakan di Spanyol menunjukkan bahwa Raja Abdullah memiliki masalah di dalam negeri. Pihak Saudi berkilah bahwa Spanyol dipilih karena alasan sejarah. Dalam peradaban Islam, Spanyol di bawah kekuasaan Muslim memang pernah menjadi sebuah tempat bagi umat tiga beragama hidup berdampingan secara harmonis di abad 8-13 M.

Namun banyak pihak meragukan argumen itu. Alasan yang lebih mungkin adalah karena Raja Abdullah tidak ingin memancing kemarahan kaum garis-keras di dalam negeri yang mungkin sekali akan terganggu oleh kehadiran wakil Yahudi dan negara-negara Barat lainnya.

Apapun kepentingannya, sang raja memang nampak serius membangun sebuah imej Saudi yang lebih terbuka. Pada November 2007, ia  menjadi raja Saudi  pertama yang secara resmi berkunjung ke Vatikan yang sebenarnya tak memiliki hubungan diplomatik dengan kerajaannya.

Pada pertemuan dengan Paus Benedict XVI, Raja Abdullah sudah mengutarakan penegasannya  tentang arti penting dialog antara agama untuk mencapai perdamaian dunia. Di sisi lain, media juga ramai memberitakan bahwa dalam pertemuan itu, Paus menyampaikan harapan agar Saudi bisa mengubah kebijakan dan memberi ruang bagi umat Kristen dan agama lainnya untuk menjalankan peribadatan mereka. Ini terkait dengan fakta ada ratusan ribu imigran beragama Kristen – terutama dari Filipina – yang bekerja di negara Islam itu.

Gara-gara pertemuan itu sudah tersiar berita bahwa pemerintah Saudi sedang mempertimbangkan kemungkinan pendirian gereja pertama di sana. Kabar itu memang belum pernah diakui secara resmi, tapi banyak pihak menilai bahwa tanda-tanda ke arah perubahan sudah semakin nyata.

Kalau memang demikian, penyelenggaraan Konferensi Madrid mungkin memang bagian dari proses keterbukaan Saudi itu. Dan kalau benar, itu adalah kabar baik bagi masyarakat Islam dan, terutama, masyarakat dunia.***

Komentar