Home » Bina-Damai » KITA SEMUA ADALAH MINORITAS

Pada saat dan tempatnya, semua kita adalah minoritas. Paling tidak kalau sudah sampai ke soal pembangunan tempat beribadah. Pada pertemuan tentang peran polisi dan masyarakat sipil dalam melindungi kebebasan beragama yang berlangsung di Surabaya akhir Februari 2013, seorang peserta dari Muhammadiyah mengeluh.

KITA SEMUA ADALAH MINORITAS

Menurutnya setiap kali kata minortas muncul, yang dimaksudkan selalu umat Kristiani, Budhis, Hindu, dan aliran kepercayaan. Ini minoritas-minoritas yang sudah terkenal.

Sebenarnya Muhammadiyah di banyak tempat di Surabaya adalah minoritas. Mereka mengalami hal serupa yang dihadapi minoritas terkenal di atas: kesulitan membangun tempat ibadah. Dia pun bercerita tentang masjid Muhammadiyah yang tak bisa dibangun di lingkungan mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya. Peserta lain, perwira dari Polda Jatim, mengiyakan betapa peliknya sengketa pembangunan masjid Muhammadiyah dimaksud.

Tadinya, saya menganggap masalah NU-Muhammadiyah sudah selesai sejak zaman Orde Lama, jika bukan sebelumnya. Rupanya tidak. Di Pasuruan, saya berbicara dengan tokoh muda NU yang juga pengurus Forum Kerjasama Umat Beragama (FKUB). Ketika saya tanyakan bagaimana hubungan antarumat beragama di Kabupaten Pasuruan, dia jawab pada umumnya baik, atau baik sekali. Pemda, polisi, militer, tokoh agama dari berbagai agama, dapat bekerjasama dan berkomunikasi menghindari masalah yang lebih besar.

Yang menjadi pelik, katanya, adalah hubungan NU-Muhammadiyah. Dia pun bercerita tentang dua masjid Muhammadiyah yang tak kunjung bisa dibangun di dua kecamatan Pasuruan. Sengketa ini sudah berulangkali dibahas Pemda dan Polres, dengan mengundang wakil-wakil dari masyarakat yang bertikai. Tapi masalah belum selelsai. Di salah satu lokasi, menara dan kubah sudah diturunkan dan warga Muhammadiyah menurunkan niatnya dari membangn masjid menjadi musala, tetapi tetap tidak diperbolehkan warga sekitar.

Di bulan Januari lalu, saya bertemu dengan pihak-pihak yang sedang bertikai mengenai pembangunan masjid di Batuplat, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ini masjid yang dibangun di lingkungan mayoritas Protestan, karena IMB yang sudah keluar dipermasalahkan. Masih di NTT, di Timor Tengah Utara, masjid yang lain, di ingkungan mayoritas Katolik, tidak bisa dibangun juga karena soal izin.

Di Yogyakarta, ada pura Hindu di lingkungan mayoritas Muslim yang tak kunjung bisa dibangun walau belasan tahun telah berlalu. Masih ingat gereja-gereja yang tak bisa dibangun di lingkungan Muslim? Gereja Yasmin GKI di Bogor? Gereja HKBP di Bekasi?***

Sumber Tulisan:
http://iis.fisipol.ugm.ac.id/

Sumber Foto:
1. http://www.thenutgraph.com
2. http://happytreefoes.blogspot.com
3. http://tx.english-ch.com

Samsu Rizal Panggabean
Peneliti Program on Peace Building & Radical Violence Institute of International Studies UGM

Komentar