Home » Bina-Damai » Ketika Atlet Haram Hormat Bendera

Cholil Ridwan pernah memberikan pernyataan yang cukup meresahkan di Tabloid Suara Islam, Edisi 109, tanggal 18 Maret-1 April 2011 (yang juga dimuat di Rubrik Pluralisme di Laman Madina ini: “Ketua MUI Haramkan Penghormatan Bendera”). Dalam Rubrik Konsultasi Ulama, Ketua MUI Pusat itu menyatakan bahwa haram bagi umat Islam untuk memberi hormat bendera dan lagu kebangsaan.

Ketika Atlet Haram Hormat Bendera

Penyataan tokoh yang ngotot untuk membubarkan Ahmadiyah ini meresahkan setidaknya karena dua alasan. Pertama, MUI adalah lembaga keagamaan yang didanai dan banyak mendapat fasilitas negara. Betapa paradoksnya jika ada orang yang bekerja di lembaga yang disuapi negara tapi memberikan pernyataan yang mengharamkan simbol-simbolnya.
 
Kedua, bayangkan bila pernyataan Cholil Ridwan itu diamini oleh para atlet kita yang sedang berjuang di Sea Games saat ini. Bayangkan bila para atlet kita yang berhasil menjadi juara tidak mau berdiri dan memberi hormat pada bendera kita setelah mereka dikalungi medali emas.

Pernyataan Cholil di atas merujuk pada fatwa Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian dan Riset Fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan bagi seorang Muslim berdiri untuk memberi hormat bendera dan lagu kebangsaan.
 
Fatwa SAS di AS

Dalam bukunya yang berjudul Melawan “Tentara Tuhan”: Yang Berwenang dan Sewenang-wenang dalam Wacana Islam (terjemahan), Khaled M. Abou El Fadl menceritakan kisah yang pernah di terjadi di AS pada Maret 1996. Saat itu, Mahmoud Abdul Rauf, pemain basket profesional warga Amerika keturunan Afrika, menolak berdiri ketika lagu kebangsaan AS dinyanyikan.
 
Abdul Rauf beralasan, sebagai seorang Muslim ia tidak boleh berdiri ketika lagu kebangsaan Amerika dinyanyikan. Ia berargumen bahwa lagu kebangsaan Amerika merepresentasikan sejarah penindasan dan perbudakan warga Amerika keturunan Afrika. Karena itu ia merasa bahwa tindakan berdiri untuk menghormati penindasan ini melukai perasaannya sebagai Muslim.
 
Tidak berapa lama atas kejadian itu, liga bola basket profesional AS menjatuhkan skorsing kepadanya. Namun esoknya Abdul Rauf memutuskan untuk mengubah sikapnya tersebut.
 
Dalam konteks ini, Abou Fadl tidak bermaksud untuk membela atau mengecam tindakan Abdul Rauf. Profesor hukum Islam di Fakultas Hukum UCLA, AS, ini lebih bersemangat untuk mengomentari fatwa haram yang dibuat oleh sebuah lembaga Islam di AS terkait kasus Abdul Rauf ini.
 
Lembaga itu adalah The Society for Adherence to the Sunnah (SAS), Masyarakat Taat Sunah. SAS memang tidak punya pengaruh sosial-politik yang cukup kuat di kalangan Muslim Amerika. Namun Abou Fadl tetap harus meluruskan fatwa itu agar masyarakat Muslim Amerika mendapat perspektif lain soal ini.
 
Menurut Abou Fadl, fatwa SAS mengelisahkan karena dalam gaya dan metodenya, fatwa ini hampir-hampir merepresentasikan gejala yang selalu terdapat dalam diskursus Muslim kontemporer. Yaitu mengharamkan memberi hormat atau berdiri ketika bendera kebangsaan dikibarkan.
 
Untuk membuat fatwa haramnya lebih kuat, SAS mengutip sumber otoritatif hukum Islam: hadis. Ada empat hadis yang dijadikan rujukan SAS, seperti termaktub dalam buku Abou Fadl tersebut. Namun untuk konteks berdiri atau memberi hormat, penulis hanya mengutip dua hadis dari empat yang dikutip SAS. Kutipan terjemahan dua hadis ini dikutip Abou Fadl dari fatwa haram SAS langsung.
 
Hadis pertama, ‘Abd Allah ibn ‘Abd al-Rahman menceritakan bahwa Anas pernah berkata: “Tak seorang pun yang lebih dicintai mereka (para sahabat) kecuali Rasulullah, meskipun demikian mereka tidak berdiri ketika berjumpa dengan Nabi karena mereka tahu bahwa Nabi tidak menyukainya.” (HR. Tirmizi).
 
Hadis kedua, Mahmoud ibn Ghaylan menceritakan bahwa Muawiyah muncul sehingga ‘Abd Allah ibn al-Zubayr dan Ibn Safwan berdiri ketika menjumpainya. Muawiyah berkata, “Duduklah, karena saya mendengar Nabi bersabda, ‘Barang siapa yang senang bila orang lain berdiri di hadapannya, maka tempat orang itu kelak adalah neraka”. (HR. Abu Dawud dan al-Tirmizi).
 
Dalam fatwanya, SAS ingin mengatakan bahwa pemujaan saja tidak boleh apalagi tindakan fisik, terlepas apapun tujuannya, maka sudah pasti sesuatu yang dilarang. Karena itu, SAS berkesimpulan bahwa berdiri untuk memberikan penghormatan adalah, paling tidak, makruh (patut dicela) jika bukan haram (dilarang).
 
SAS juga menegaskan bahwa ketaatan atau loyalitas (wala) tidak boleh diberikan kepada orang-orang yang tidak beriman. Mungkin menurut SAS, berdiri untuk menghormati seseorang atau sesuatu adalah tindakan wala tadi. Karena itu tidak boleh kecuali kepada Allah, apalagi wala untuk orang-orang yang tidak beriman.
 
Hadis Lemah

Hadis pertama diceritakan Anas dan diriwayatkan al-Tirmizi (w. 279 H/892-893 M). Hadis ini dikompilasi al-Tirmizi dalam bukunya, Sunan al-Tirmizi, dalam bab tentang adab atau tatakrama yang baik. Di kitab itu ia dengan tegas mengatakan bahwa kualitas hadis ini tidak terlalu baik alias lemah. Ia menyebut hadis ini sebagai hadis hasan gharib.
 
Dalam penelusuran Abou Fadl, hadis ini tidak termuat dalam dua kitab kompilasi hadis utama seperti Sahih Bukhari (w. 256 H/870 M) dan Sahih Muslim ( w. 261 H/875 M). Dua kitab yang validitasnya sangat tinggi di kalangan Muslim setelah Al-Quran.
 
Dalam studi ilmu hadis, hadis di atas tidak terlalu penting karena hanya Anas yang menerima hadis tersebut. Agar bisa menjadi rujukan hukum, sebuah hadis harus didukung dengan kekuatan penuh: banyak diterima transmitor hadis, baik dari kalangan sahabat maupun dua generasi sesudahnya.
 
Hadis dengan transmisi tunggal ini tetap berguna bila berkaitan dengan soal-soal adab (sopan santun dan tatakrama) dalam diskursus keislaman yang sedikit pengaruhnya bagi terhadap kewajiban moral dan etis seorang Muslim. Tapi untuk soal yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban agama (seperti wajibat dan furudh, tugas-tugas dan kewajiban yang diperintahkan), umat Islam tidak boleh mendasarkan perintah-perintah teologis yang fundamental pada transmisi-transmisi tunggal yang tidak kuat itu.
 
Hadis kedua, hadis tentang Muawiyah diriwayatkan oleh Abu Dawud (w. 275 H/889 M) dan al-Tirmizi melalui Abu Mijlaz dari Muawiyah. Dan hadis model seperti ini terdapat dalam bab tentanh adab atau isti’dzan.
 
Ada ketidakcocokan di antara berbagai transmisi hadis ini, tulis Abou Fadl. Abu Dawud meriwayatkan bahwa ketika Muawiyah datang, Ibn Amir berdiri sementara Ibn al-Zubayr tetap duduk. Karena itu, Muawiyah menyuruh Ibn Amir duduk sambil mengutip hadis kedua di atas. Tapi dalam versi al-Tirmizi disebutkan ketika Muawiyah datang, Ibn al-Zubayr dan Ibn Shafwan sama-sama berdiri.
 
Dalam hadis versi al-Tirmizi, nama Ibn Amir malah tak disebut sama sekali. Jadi ada perbedaan pendapat siapa yang sebenarnya berdiri dan siapa yang tetap duduk.
 
Yang penting untuk dicatat, kebanyakan versi transmisi hadis ini merujuk kepada Abu Mijlaz. Masalahnya, tidak banyak catatan yang bisa diperoleh tentang perawi ini.
 
Abou Fadl menulis, ia bernama lengkap Lahiq ibn Humayyid al-Sadusi al-Bashri dan tinggal di Basrah. Ia pernah ditunjuk sebagai bendaharawan dan pelaksana tugas-tugas resmi semasa Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz. Beberapa riwayat menyebut Abu Mijlaz meninggal pada 106 H/725 M atau pada 109 H/728 M; dan ada riwayat lain yang menyebut pada tahun-tahun yang lain.
 
Ketika Muawiyah berkuasa, Abu Mijlaz masih berusia belia. Ia juga tidak tinggal di Damaskus, tempat Muawiyah hidup dan berkuasa, tapi di Basrah. Tidak banyak hadis yang diriwayatkannya dan tak ada seorang pun yang menyaksikan peristiwa yang diceritakan dalam riwayat ini.
 
Dalam versi lain, tulis Abou Fadl, Ibn Baridah, melaporkan bahwa ayahnya juga pernah mengutip Muawiyah yang mengatakan bahwa Nabi bersabda, “Barangsiapa senang bila orang lain berdiri di hadapannya, maka tempat orang itu kelak adalah neraka.” Tapi tak satu pun dari enam kitab hadis terkemuka yang menerima kisah ini.
 
Setidaknya ada dua persoalan mendasar yang terkandung dalam seluruh versi riwayat ini. Pertama, jenis riwayat ini kemungkinan termasuk dalam kategori ‘riwayat politik’ sehingga menjadi masalah tersendiri. Dalam studi sejarah Islam, antara Muawiyah, khalifah pertama Dinasti Umayyah (berkuasa 41-60 H/661-680 H) dan Ali ibn Abi Thalib (berkuasa 35-40 H/656-661 M) pernah berseteru dalam sebuah konflik politik. Dari konflik ini lahirlah perang yang cukup dikenal dalam sejarah umat Islam awal, Perang Shiffin (37 H/675 M).
 
Hadis yang kedua ini, tulis Abou Fadl, ingin menampilkan citra Muawiyah yang positif. Padahal Ali terus menyalahkan oportunisme politik dan ketidakjujuran Muawiyah dalam meraih kekuasaan. Riwayat ini ingin memoles citra Muawiyah: bahwa Muawiyah bukanlah seorang politisi yang oportunis, apalagi haus kekuasaan. Dengan begitu, hampir bisa dipastikan bahwa para pendukung Muawiyahlah yang menyebarkan riwayat ini.
 
Asumsi ini bukan mengada-ada. Dalam konteks pembahasan hadis yang berkait soal sekte-sekte, hadis-hadis yang mempunyai rangkain transmisi yang kuat pun akan ditolak jika dipandang lebih memihak salah satu faksi.
 
Kedua, sekalipun ada beberapa pihak yang menerima autentisitas riwayat ini, al-Thabari (w. 310 H/923 M) dan al-Nawawi (w. 676 H/1277 M), menganggap riwayat ini lemah. Menurut al-Thabari dan al-Nawawi, tulis Abou Fadl, hadis ini tidak memberikan larangan terhadap tindakan berdiri atau tidak berdiri, tapi lebih pada soal seseorang yang senang bila orang lain berdiri karena dirinya, maka celakalah dia.
 
Jadi, larangan itu berlaku bagi orang yang mendapat penghormatan dari orang lain melalui tindakan berdiri, bukan bagi orang yang berdiri itu sendiri. Paling tidak hadis ini ingin berkata, bahwa para pemimpin harus rendah hati.
 
Sebenarnya ada banyak hadis lain yang serupa yang bisa dikutip SAS, tulis Abou Fadl. Misalnya, Abu Dawud meriwayatkan bahwa Abu Umamah al-Bahli melaporkan bahwa Nabi mendatangi orang-orang mukmin. Melihat Nabi datang, mereka lalu berdiri. Tidak lama, Nabi bersabda, “Jangan berdiri seperti orang-orang a’ajim (orang-orang kafir non-Arab) berdiri di hadapan sesama mereka”. Al-Thabari mengatakan kualitas hadis ini lemah karena terdapat masalah dalam rangkaian transmisinya.
 
Dalam transmisi lain, melalui Ibn Baridah dari Muawiyah, dilaporkan bahwa Nabi pernah bersabda, “Barang siapa yang senang bila orang lain berdiri di hadapannya sebagaimana penggugat yang menyebabkan orang lain berdiri di hadapannya, maka ia tidak akan masuk surga”. Dalam hadis lain, diriwayatkan melalui Jabir, diceritakan bahwa Nabi merasa sakit ketika sedang salat sehingga beliau duduk. Tapi orang-orang mukmin masih tetap berdiri. Nabi mengisyaratkan kepada mereka untuk duduk. Usai salat, Nabi bersabda, ‘Kalian bertingkah seperti orang-orang Persia dan Byzantium. Mereka berdiri sementara raja-raja mereka duduk. Jangan lakukan itu lagi.”
 
Hadis lain, Anas menceritakan bahwa Nabi pernah bersabda, “Orang-orang seperti kamu mengalami kehancuran karena mereka memuliakan raja-raja mereka dengan berdiri di hadapan raja-raja mereka yang sedang duduk.”
 
Hadis Tandingan
Masalahnya, tulis Abou Fadl, dalam berbagai riwayat yang lain kita bisa menemukan dengan mudah hadis-hadis yang bertentangan dengan hadis-hadis di atas.
 
Misalnya, riwayat dari Abu Dawud yang menyebutkan bahwa Ahmad ibn Yunus menceritakan bahwa para sahabat pernah mencium tangan Nabi. Al-Tarmizi meriwayatkan bahwa Abu Kurayyib menceritakan bahwa dua orang Yahudi pernah mencium tangan dan kaki Nabi.
 
Bahkan Abu Dawud, al-Bukhari, Muslim, dan al-Bayhaqi (w. 458 H/870 M), melalui berbagai transmisi meriwayatkan bahwa Nabi meminta para sahabat berdiri untuk Sa’d ibn Mu’adz (w. 5 H/626 M). Menurut riwayat tersebut, setelah pendapat Sa’d ibn Mu’adz diterima Banu Qurayzhah (suku Yahudi), Sa’d kembali kepada Nabi dan para sahabat. Melihat kedatangannya, Nabi lalu berseru kepada sahabat yang lain, “Berdirilah kamu sekalian untuk tuanmu.”
 
Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud bahwa Abu Hurayrah (w. 59 H/679 M) menceritakan bahwa ketika Nabi berdiri hendak pergi, para sahabat kemudian berdiri dan terus berdiri sampai Nabi meninggalkan masjid.
 
Al-Tarmizi dan al-Nasa’i (w. 303 H/915 M) pernah meriwayatkan bahwa Nabi berdiri bila beliau bertemu dengan rombongan jenazah. Dalam peristiwa yang terkenal, tulis Abou Fadl, Nabi berdiri ketika pemakaman seorang perempuan Yahudi. Ketika Nabi diberitahu bahwa yang meninggal itu adalah seorang Yahudi, Nabi menjawab, “Tapi bukankah ia juga seorang makhluk!”
 
Harmoni Sosial
Dari kasus Abdur Rauf dan fatwa haram yang dibuat SAS, Abou Fadl menyimpulkan beberapa poin. Pertama, ada dua hal yang perlu dibedakan ketika kita membaca gerak-gerik Nabi semasa hidupnya. Ada tindakan Nabi yang bernilai tasyriyah (tindakan Nabi sebagai legislasi) dan ada tindakan Nabi yang masuk dalam kategori af’al jibiliyah (tindakan Nabi non-legislatif).
 
Tindakan Nabi yang pertama, sebagai legislasi, seperti perkara yang berkaitan dengan peran-peran Nabi sebagai utusan Tuhan, kepala negara, dan hakim. Sedangkan tindakan nabi yang kedua seperti sunah yang berkaitan dengan pengetahuan khusus atau teknis tentang hal-hal tertentu seperti kesehatan, perdagangan, pertanian, dan perang. Ciri-ciri khusus seorang Nabi seperti jumlah istri dan saum al-Wishal (berpuasa sepanjang hari) masuk dalam kategori ini.
 
Kedua, para ulama hadis cenderung memasukkan riwayat-riwayat yang autentisitasnya diragukan ke dalam bab etiket dan tatakrama (adab dan isti’dzaniyat). Praktik ini dikenal dengan al-tasahul fi al-adab, hadis-hadis yang tidak lolos uji karena lemah dari sisi transmisi tapi masih bisa diterima karena hadis-hadis itu hanya berhubungan tentang etiket dan tatakrama.
 
Dengan demikian, semua hadis yang kurang terpercaya tidak bisa dimasukkan ke dalam bab hadis yang bernilai legislasi seperti bab ibadat (hukum-hukum penyembahan yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan) dan bab muamalat (perbuatan-perbuatan yang terkait dengan pergaulan sipil atau komersil yang mengatur hubungan sesama umat manusia). Hadis yang lemah ini hanya bisa masuk dalam bab adab (preseden-preseden yang menganjurkan dan mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan tatakrama dan tutur sapa).
 
Ketiga, para sarjana Muslim klasik berbeda pendapat soal ini. Al-Ayini (w. 855 H/1041 M), seorang komentator kitab Sahih al-Bukhari, mengatakan bahwa tidak ada perangkat aturan yang dihasilkan di seputar berdiri ini karena banyak selisih pendapat tentangnya. Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1449 M), komentator kitab Sahih al-Bukhari lainnya, menyatakan jika pengabaian soal berdiri bisa mendatangkan kerugian atau kerusakan (mafsadah), maka tidak berdiri menjadi sesuatu yang dilarang. Ibn Hajar al-Asqalani mendasarkan argumennya pada logika prioritas dalam syariah.
 
Ibn Rusyd, filsuf dan ilmuan fikih, mengatakan ada empat jenis berdiri. Pertama, seseorang dilarang untuk secara arogan dan sombong meminta orang lain berdiri karena kehadirannya. Kedua, makruh bagi seseorang untuk berdiri kepada seseorang yang tidak sombong atau arogan, karena dikhawatirkan orang itu akan menjadi sombong atau arogan jika orang-orang berdiri untuknya. Ketiga, dibolehkan berdiri sebagai tanda penghormatan kepada seseorang yang tidak dikhawatirkan akan menjadi arogan karena kita berdiri untuknya. Keempat, dianjurkan berdiri kepada seseorang dalam rangka menyampaikan orang baru datang dari bepergian.
 
Ibn Hajar al-Haytami, ilmuan fikih, menyatakan bahwa di masa hidupnya tindakan berdiri sudah menjadi kebiasaan untuk menghormati orang-orang tertentu. Jika ada seseorang yang menolak untuk berdiri maka itu bisa mendatangkan perasaan sakit hati, rasa permusuhan, dan kebencian di antara sesama umat Islam. Karena itu ia menyimpulkan tindakan berdiri hukumnya sunah, kalau tidak wajib, untuk mencapai harmoni sosial dan menghindari perselisihan yang tidak perlu.***

Sumber foto:
http://www.skyscrapercity.com
http://tvberuangkaltim.com
http://sport.vivanews.com

Komentar