Home » Bina-Damai » Hikmah dari Usamah
Salah satu di antara para sahabat yang disayang nabi dan masuk dalam rekaman sejarah Islam awal adalah Usamah ibn Zaid. Dia termasuk sahabat yang masih berusia muda kala nabi dan para sahabat sudah menetap di Madinah.
 

Hikmah dari Usamah

Usia Usamah kira-kira tidak jauh berbeda dengan Hasan, cucu nabi dari jalur Ali-Fatimah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa nabi sering memangku Usamah di salah satu pahanya dan memangku Hasan di paha yang lain. Sambil memeluk keduanya, nabi selalu berdoa, “Ya Allah, saya sangat menyayangi keduanya, maka sayangilah juga keduanya.”
 
Banyak hikmah yang bisa dipetik dari sosok Usamah yang masih relevan dengan kondisi sekarang. Salah satunya yang terekam dalam hadis ke-2528 yang terdokumentasi dalam kitab kumpulan hadis, Sunan Abu Daud. 
Hadis itu berbunyi, ”Dari Usamah ibn Zaid, dia berkata pernah suatu hari nabi mengirim kami dalam jumlah satu detasemen ke tempat Bani Haraqat. Lalu mereka (musuh) merasa bahwa kami akan menyerbu mereka, karena itu mereka melarikan diri. Maka kami tangkap seorang laki-laki setelah kami mengepungnya. Saat terkepung, laki-laki itu berkata, ’Tidak ada tuhan selain Allah.’ Lalu kami tebas dia sampai akhirnya dia terbunuh.”
Kesayangan dari Anak Kesayangan
Sebelum membahas isi hadis tersebut, ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan Usamah ibn Zaid. Usamah adalah putra dari pasangan Zaid ibn Haritsah dan Ummu Aiman. Ia dilahirkan pada tahun ketujuh sebelum Hijriah yang bertepatan pada 615 M.
Ayahnya adalah anak angkat nabi yang paling beliau sayangi. Saking dekatnya hubungan personal Nabi Muhammad dengan Zaid ibn Haritsah, beliau pernah menyematkan pada nama belakang Zaid: ibn Muhammad (anak Muhammad). Namun Allah menegur tindakan nabi tersebut dengan menurunkan ayat keempat puluh Surat Al-Ahzab. ”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah rasulullah dan penutup para nabi, dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ibunya, Ummu Aiman, bukanlah orang Arab asli melainkan berasal dari Habsyi atau Etopia, Afrika. Dia adalah sahaya dari Aminah binti Wahab, ibunda nabi. Dialah yang mengasuh nabi sejak kecil ketika Aminah masih hidup sampai ia meninggal dunia. Aminah memang yang melahirkan nabi, tapi kasih sayang seorang ibu beliau dapatkan dari Ummu Aiman.
Dari pernikahan dua orang (Zaid dan Ummu Aiman) yang disayangi nabi ini lahir Usamah ibn Zaid. Nabi sangat bergembira kala pasangan itu melahirkan seorang anak. Kegembiraan nabi ini melebihi kegembiraannya ketika mendengar kabar kelahiran bayi-bayi dari para sahabat yang lain. Karena melihat kegembiraan nabi ini, para sahabat menjuluki Usamah ibn Zaid sebagai “Al-Hibb wa Ibn al- Hibb” (kesayangan dari anak kesayangan).
Di bawah bimbingan nabi dan juga orangtuanya, Usamah tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, bijak, dan tangkas. Tidak pernah sedikit pun Usamah melakukan kenakalan-kenakalan anak muda yang memalukan orangtuanya dan nabi.
Usamah juga dikenal sebagai anak muda yang mau terlibat aktif dalam komunitas Muslim awal saat itu. Saat perang Uhud, Usamah dan anak-anak para sahabat lainnya ingin bergabung dalam rombongan tentara Muslim. Sebagian diperbolehkan nabi untuk ikut bergabung, dan sebagian lain tidak karena masih dianggap terlalu muda. Usamah masuk dalam kelompok yang tidak diizinkan nabi. Lantaran itu ia menangis sepanjang jalan menuju rumahnya.
Setelah diizinkan nabi ikut berperang, Usamah selalu berada dalam garda terdepan bersama ayahnya, Zaid ibn Haritsah, dan para sahabat senior lainnya dalam setiap pertempuran yang terjadi antara kaum Muslim versus kaum kafir penindas. Seperti saat perang Khandaq, Hunain, Mu’tah, dan perang lainnya.
Puncak karir Usamah di medan perang ialah saat nabi mengirim pasukan Muslim dalam jumlah banyak menuju Syiria, pusat kekaisaran Byzantium, pada bulan Safar tahun 11 Hijriah. Usamah yang usianya belum genap 20 tahun diangkat nabi sebagai panglima untuk memimpin pasukan tersebut.
Beragam Versi
Ada beberapa versi cerita tentang kisah Usamah yang membunuh seorang musuh yang sudah tak berdaya. Esensinya sama, tetapi detail ceritanya berbeda. Berikut ini beragam versi itu.
Versi pertama terdapat dalam hadis nomor ke-2528 dalam Sunan Abu Daud dan juga dirawayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa`i, Ibnu Hibban, Baihaqi dan Hakim. Hadis itu berbunyi, ”Dari Usamah ibn Zaid, dia berkata pernah suatu hari nabi mengirim kami dalam jumlah satu detasemen ke tempat Bani Haraqat. Lalu mereka (musuh) merasa bahwa kami akan menyerbu mereka, karena itu mereka melarikan diri. Maka kami tangkap seorang laki-laki setelah kami mengepungnya. Saat terkepung, laki-laki itu berkata, ’Tidak ada tuhan selain Allah.’ Lalu kami tebas dia sampai akhirnya dia terbunuh.” 
Usamah memberitahukan hal itu kepada nabi, lalu beliau bersabda, ’Siapa yang akan membelamu kelak di hari kiamat dari kalimat la illaha illa Allah?’ Kemudian Usamah berkata, ’Wahai rasulullah dia mengucapkannya hanya karena takut senjata.’ Nabi bersabda, ’Apa kamu tidak membelah hatinya agar kamu tahu apakah dia mengucapkan kalimat itu karena hanya takut senjata atau bukan? Siapa pembelamu kelak di hari kiamat dari kalimat la illaha illa Allah.’ Beliau tetap mengucapkan kata-kata tersebut sehingga Usamah menginginkan masuk Islam lagi pada hari itu.
Versi kedua penulis kutip dari buku Tariq Ramadhan yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Muhammad Rasul Zaman Kita. Dalam bukunya, Tariq menceritakan nabi pernah mengirim ekspedisi ke suku-suku Badui di sebelah utara, terutama Bani Murrah yang menyerang petani Yahudi yang bekerja di oase Fadak yang berada dalam otoritas nabi. Saat itu orang-orang Badui mengalahkan tim ekspedisi tersebut dan membunuh sebanyak 30 orang dari mereka.
Nabi kemudian memutuskan untuk mengirim pasukan lagi sebanyak 200 orang, termasuk di dalamnya Usamah ibn Zaid yang usianya baru 17 tahun. Pertempuran yang kedua itu lebih sengit lagi karena suku-suku Badui itu bersatu dengan harapan dapat mengalahkan pasukan Muslim dan mengambil alih oase Fadak dan kekayaannya. Akhirnya, pertempuran tersebut dimenangi tentara Muslim.
Dalam pertempuran tersebut salah satu orang dari Bani Murrah mengejek Usamah yang dianggap masih ’bau kencur’. Karena tidak bisa mengendalikan diri, Usamah menantang duel orang tersebut. Saat merasa akan kalah, orang tersebut melarikan diri dari duel dan Usamah mengejar orang tersebut dan mengabaikan perintah pemimpin ekspedisi agar tetap bersama saat perang.
Usamah berhasil mengejar orang tersebut dan sempat melukainya. Di saat terjepit, orang dari Bani Murrah itu mengucapkan kalimat ”Tidak ada tuhan selain Allah”, tapi Usamah mengabaikan syahadat tauhid itu. Ia lalu membunuhnya. Ketika kembali ke perkemahan, Usamah menceritakan kejadian tersebut kepada pemimpin ekspedisi dan sebagian tentara Muslim. Mereka semua terkejut dengan tindakan Usamah itu. Dalam kondisi bersalah, Usamah mengucilkan diri dari pasukan yang lain.
Sampai di Madinah, nabi menyambut para pasukan termasuk Usamah dengan gembira atas kemenangan mereka. Usamah menceritakan peristiwa duelnya tersebut kepada nabi dan beliau tidak setuju dengan keputusan Usamah. Nabi lalu berkata kepada Usamah, ”Apa kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan ’Tidak ada tuhan selain Allah?’ Usamah menjawab bahwa orang Badui itu hanya mengucapkannya agar dia tidak dibunuh. Mendengar itu nabi memarahinya, ”Apa kamu telah membelah hatinya untuk mengetahui dia berkata benar atau dusta?” Usamah cemas dan takut bila seandainya kesalahannya tersebut tidak bisa diampuni. Tapi, akhirnya Nabi memaafkan Usamah.
Versi yang lain, Yusuf Qardhawi dalam bukunya yang sudah diterjemahkan, Islam Ekstrem, menceritakan hal yang sama. Namun versi Qardhawi lebih singkat dari versi pertama, apalagi dari versi yang kedua.
Dalam bukunya tersebut, Qardhawi menulis: ”Nabi mengecam Usamah ketika ia membunuh seseorang di medan perang sesudah ia mengucapkan kalimat syahadat. Beliau bertanya, ’Engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan la ilaha illallah?’ Jawab Usamah, ’Ia hanya mengucapkan kalimat itu karena hendak berlindung dari pukulan pedang.’ Maka beliau pun bertanya lagi, ’Tidakkah engkau membelah dadanya, lalu [melihat] apa yang kau perbuat dengan kalimat la ilaha illallah itu?’ Kemudian, ujar Usamah selanjutnya, ’Tak putus-putusnya nabi mengucapkannya, sehingga aku sangat ingin seandainya baru hari itu aku menjadi seorang Muslim.’
Menangkap Pesan
Lalu, pesan apa yang ingin disampaikan dari hadis tersebut?
Pertama, ibn Hajar al-Asqalani, seorang komentator hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari, pernah berkomentar tentang hadis Usamah ini. Komentarnya: ”Semua ulama sepakat bahwa hukum-hukum di dunia ini berdasarkan yang zahir atau yang tampak. Sedangkan yang bersifat rahasia, motivasi, pemikiran, ideologi, dan lain-lain, menjadi urusan Tuhan. Setidaknya itulah yang ditegaskan nabi dengan kalimat, ’Apakah kamu (Usamah) tidak membedah hatinya.”
Norma di atas: menghukum yang tampak dan menyerahkan yang bersifat rahasia kepada Allah, sepertinya sudah tidak lagi relevan bagi sebagian kecil Muslim di Indonesia belakangan ini. Dengan jumawa mereka mengambil otoritas Tuhan tersebut lalu mengelompokkan kalangan yang berseberangan pendapat dengan mereka sebagai ’yang lain, yang cacat’. Lebih jauh mereka ingin mengulangi kesalahan Usamah yang sama dan bangga akannya dengan mengintimidasi, membakar, dan memberangus. Mereka tidak ingin menjadi Usamah yang kelahirannya membuat nabi menangis bahagia.
Kedua, kisah Usamah sangat kontras dengan Ali, menantu nabi. Kendati Ali memenangi duel dengan seorang lawannya, tapi ia tidak membunuh musuhnya itu di medan perang. Saat itu musuhnya sudah terdesak, dan kemudian ia meludahi Ali. Tentu, Ali dipenuhi amarah akibat diludahi lawannya itu. Tapi bukan membunuh musuhnya itu yang dilakukan Ali, tapi ia malah meninggalkan lawannya itu. Ali takut jikalau perbuatannya itu tidak karena Allah, tapi untuk memuaskan amarah dan dendamnya saja. Mungkin faktor kematangan mental dan perbedaan usia yang membedakan keduanya dalam menghadapi kerasnya medan pertempuran.
Kiranya Ali dan Usamah telah memberikan kita contoh bagaimana mengelola amarah saat menghadapi musuh dalam kondisi yang keras dan panas. Bila dalam kondisi perang saja kita disarankan agar tetap waras menghadapi musuh, apalagi dalam kondisi damai.
Dalam kasus yang terdapat dalam hadis di atas, Al-Quran dalam ayat ke-94 surat Al-Nisa secara jelas memerintahkan umat Islam untuk memperlihatkan kebijaksanaan dan pengendaliaan diri kepada musuh-musuhnya. Di samping, tentu saja mengupayakan perdamaian.
Sekarang pilihan ada di tangan kita: menjadi Usamah yang dicintai nabi atau Usamah yang dimarahi nabi? ***

Komentar