Home » Bina-Damai » Dua Tokoh Perdamaian Nigeria akan Kunjungi Indonesia
Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa. Sumber: csmonitor.com

Dua Tokoh Perdamaian Nigeria akan Kunjungi Indonesia

Ada kabar baik bagi pendamba, aktivis, dan peneliti perdamaian. Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa direncanakan akan berkunjung ke Indonesia pada akhir Agustus mendatang.

Kabar itu disebarkan oleh pengguna akun Facebook atas nama Jacky Manuputty pada Senin lalu (8/5).  Bagi pendamba perdamaian, kabar itu seperti oase di tengah menguatnya sentimen SARA pada Pilkada Jakarta 2017 yang menjalar ke hampir wilayah di Indonesia belakangan ini

Jacky Manuputty sehari-hari berkhidmat sebagai pendeta Geraja Protestan Maluku. Yang tidak kalah penting dari itu, Jacky dikenal sebagai inisiator perdamaian bersama tokoh Muslim Abidin Wakano kala Maluku dihantam konflik berdarah berbasis agama pada 1999-2000. Belakang nama Jacky selalu dikaitkan dengan ‘provokator perdamaian’.

Dalam postingannya itu Jacky menceritakan tentang rencana kunjungan Pastor James dan Imam Ashafa ke Indonesia. Menurut penerima Ma’arif Award 2005 untuk kategori pekerja perdamaian itu rencana bermula kala ia tengah berkunjung ke New York.

Pada satu kesempatan di New York City tahun lalu, Jacky bertemu Pastor James dan Imam Asyafa. Pada kesempatan itu juga Jacky mengundang keduanya untuk berkunjung ke Indonesia.

Menurut Jacky, ia bertemu Pastor James dan Imam Asyafa dalam pertemuan dua tahunan para aktivis perdamaian dari berbagai negara yang mendapat anugerah Peacemaker in Action dari Tanenbaum Center for Interreligious Understanding. Ketiganya adalah penerima anugerah tersebut. Pastor James dan Imam Asyafa mendapat anugerah itu pada 2000, sementara Jacky pada 2012.

“James dan Ashafa terlihat sangat gembira ketika beta mengundang mereka untuk mengunjungi Indonesia,” tulis Direktur Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) dalam postingannya itu.

Bagi pembaca yang tidak mengikuti mengikuti perjalanan Pastor James dan Imam Asyafa, keduanya adalah tokoh perdamaian dan sahabat karib beda agama dari Nigeria. James adalah seorang pastor di gereja Pantekosta, sedangkan Ashafa adalah seorang imam di komunitas Muslim Suni, khususnya para pengikut Tarikat Tijaniyah.

Yang menarik, sebelum Pastor James dan Imam Ashafa bersahabat, mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain. Itu terjadi pada awal dekade 1990-an. Kala itu ekonomi di Nigeria ambruk dan berdampak pada relasi sosial di antara kelompok warga. Buntutnya, konflik berdarah antara Muslim dan Kristen, dua kelompok agama yang dominan, tak terhindarkan.

Dalam konflik berdarah itu, James dan Ashafa adalah tokoh penting dari dua kelompok sosial yang saling berhadap-hadapan itu. James adalah seorang aktivis Kristen ternama dan pernah menjabat sebagai sekjen the Youth Christian Association of Nigeria (YCAN), organisasi gabung seluruh kelompok Kristen di Nigeria. Sementara Ashafa –anak sulung seorang imam dan dibesarkan dalam keluarga dengan tradisi tasawuf yang moderat, tapi terpengaruh kelompok islamis– ingin melakukan islamisasi di utara Nigeria dan mengusir kaum Kristen dari wilayah itu.

Dalam konflik berdarah berbasis agama itu tidak terhitung lagi kehilangan yang dirasakan masing-masing pihak, termasuk James dan Ashafa. Orang terdekat keduanya ikut menjadi korban pembunuhan. Bahkan salah satu lengan James putus akibat konflik itu.

“Dampak konflik merubah persepsi mereka mengenai kemanusiaan dan mendorong mereka untuk saling mengulurkan tangan, memaafkan, kemudian bekerja sepenuhnya untuk mengkampanyekan perdamaian di Nigeria dan di seluruh dunia,” tulis peraih gelar master untuk program Pluralism & Interreligoius Dialogue pada Hartford Seminary, Hartfor, CT-USA, pada 2010 itu.

Sejak 1995, James dan Ashafa bekerja sama untuk membangun perdamaian lintas agama. Keduanya bahkan membentuk the Interfaith Mediation Center of the Muslim-Christian Dialogue di negara bagian Kaduna, utara Nigeria.

Untuk mengapresiasi sekaligus memperkenalkan kepada khalayak luas tentang kerja-kerja perdamaian yang dilakukan James dan Ashafa, sebuah lembaga membuat film dokumenter berjudul The Imam and the Pastor (2006). Film ini ditonton dan didiskusikan secara luas oleh gerakan-gerakan perdamaian lintas agama di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

The Imam and the Pastor bisa disaksikan di YouTube. Versi Terjemahan Bahasa Indonesia pun sudah ada.

Karena film itu, James dan Ashafa diundang ke berbagai belahan dunia untuk menginspirasi kerja-kerja perdamaian lintas agama. Tahu bahwa James dan Ashafa belum pernah berkunjung ke Indonesia, Jacky mengundang dua tokoh perdamaian itu.

Upaya Jacky itu seperti dimudahkan. Pengajuan Jacky kepada Tanenbaum Center for Interreligious Understanding untuk mengundang James dan Ashafa disetujui. Itu artinya kunjungan James dan Asyafa ke Indonesia pada akhir Agustus mendatang sudah terfasilitasi.

Menurut Jacky, kunjungan James dan Ashafa adalah bagian dari ketentuan Tanenbaum Center. Ketentuan itu menyebut bahwa setiap peacemaker yang mendapat Tanenbaum Award diharapkan bersedia mengisi program-program perdamaian yang dilakukan peacemaker dari negara lain.

Tujuannya untuk memperkuat jaringan kerjasama dan membagi pengalaman-pengalaman pengelolaan perdamaian masing-masing negara.  Sekaligus belajar pengelolaan perdamaian, seperti pendekatan dan strategi yang digunakan oleh pemimpin lokal.

Jacky semula merencanakan James dan Ashafa akan berada di Indonesia selama 2 pekan hari di 3 kota yang berbeda. Dimulai di Jakarta, lalu Yogyakarta, dan berakhir di Ambon. Namun pengurus Tanenbaum Center hanya mengabulkan kunjungan James dan Ashafa selama 10 hari. Itu pun tidak seluruhnya di Indonesia, tapi juga ke Filipina berhubung ada peacemaker di Mindanao.

“Dari 10 hari itu akhirnya dibagi dua. Lima hari di Indonesia dan lima hari di Filipina,” kata Jacky saat dihubungi Madina Online melalui sambungan telepon pada Rabu (10/5).

Lima hari itu akan dimanfaatkan Jacky secara maksimal. Jacky menyatakan kunjungan James dan Ashafa difokuskan di Yogyakarta, selain di Jakarta. Kegiatan workshop yang mengundang para pekerja-pekerja perdamaian dan dialog dari berbagai wilayah di Indonesia akan lebih lama diselenggarakan di Yogyakarta.

“Rencananya akan ada workshop selama 3-4 hari di Yogya. Dalam workshop itu ada sekitar 25 para pekerja perdamaian yang diundang untuk berbagi pengalaman mereka mengelola perdamaian di wilayah masing-masing, selain pengalaman James dan Ashafa sendiri,” ungkap Jacky. []

Komentar