Home » Bina-Damai » Di Jember, Penyerangan Warga Syiah Berhasil Digagalkan

Hubungan warga Syiah dan Sunni di Jember masih rawan konflik. Sebagian penganut dua mazhab besar Islam itu hingga kini belum juga menemukan titik temu untuk hidup berdampingan.

Di Jember, Penyerangan Warga Syiah Berhasil Digagalkan

Rabu lalu (16/01), di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, penyerangan terhadap warga Syiah hampir saja terjadi. Saat itu, warga Syiah berencana melakukan pawai besar dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Mereka adalah santri dari Pondok Pesantren Darus Sholihin di bawah pimpinan Habib Ali Bin Umar Al-Habsyi.

Saat pawai besar akan dilakukan, massa dengan jumlah besar mendatangi iring-iringan. Massa pemrotes mendesak agar pawai tidak dilaksanakan, dan rencana peringatan Maulid Nabi tidak diselenggarakan. Berdasarkan informasi Kepolisian Resor Jember, Ajun Komisaris Besar Jayadi, massa pemrotes adalah kelompok Sunni di bawah garis komando Ustadz Fauzi.

Alasan penolakan terhadap peringatan Maulid Nabi itu didasarkan atas identitas mazhab Habib Ali dan para pengikutnya yang Syiah. Bagi massa pemrotes, Syiah dianggap tidak layak memperingati kelahiran Nabi Muhamad lantaran ajarannya dianggap sesat. Desakan lainnya, massa pemrotes meminta Habib Ali diusir dari Puger, Jawa Timur. 

Beruntung polisi berhasil menggagalkan penyerangan itu. Polisi sudah mengendus rencana penyerangan tersebut. Lalu berhasil melakukan komunikasi dengan warga Syiah dan Sunni Kecamatan Puger. Pihak kepolisian juga meminta masyarakat sekitar agar tidak ikut terprovokasi.

Situasi sempat tegang dan akhirnya kembali mencair. Keberhasilan Polisi Kabupaten Jember dalam membangun komunikasi membuat kedua kelompok massa menahan diri untuk tidak saling serang.

Kisruh Syiah-Sunni di Jember sebenarnya sudah berjalan sejak Mei 2012 lalu. Di bulan itu antara warga Syiah dan Sunni saling serang. Pada Agustus 2012, di jalanan muncul spanduk-spanduk liar yang isinya menghujat Syiah sebagai ajaran sesat. Sekalipun pihak kepolisian dan Pamong Praja berhasil mengantisipasi terjadinya konflik, provokasi sesat-menyesatkaan terhadap Syiah masih terus berlanjut.

Jalan Terjal Damai

Kisruh Syiah dan Sunni merupakan batu ujian untuk membangun kerukunan beragama dan perdamaian di Indonesia. Usaha damai perlu terus dilakukan dengan tidak saja lewat pendekatan antara kedua belah pihak, tetapi juga sikap berani pemerintah Jawa Timur untuk mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur agar lebih dewasa melihat perbedaan mazhab dan sama-sama melakukan upaya konstruktif demi kerukunan dan perdamaian.

Serupa Sunni, Syiah juga bagian dari agama Islam. Sejak zaman Sahabat Syiah sudah berdiri. Sejarah dan kebudayaan Islam tak lengkap tanpa Syiah. Perbedaan antara Syiah dan Sunni adalah soal cara mendekati wahyu Allah SWT. Serupa kalangan Sunni, Syiah juga memiliki motodologi tersendiri dalam menafsir teks suci dan mengamalkan syariah.    

Untuk meredam konflik itu, prakarsa damai sudah pernah dilakukan. Pertemuan antara warga Syiah dan Sunni sempat dilakukan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jember pada Kamis, 30 Agustus 2012 lalu.

MUI Jawa Timur ikut hadir dalam pertemuan tersebut. Peserta lainnya adalah pejabat Kantor Kementerian Agama Jember, pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), pengurus Nahdlatul Ulama (NU), pengurus Muhammadiyah, serta pengasuh Pesantren Darus Sholihin pimpinan Habib Ali Bin Umar Al-Habsyi

Namun prakarsa damai tersebut masih mengandung banyak kelemahan. Di antaranya sikap ulama Jawa Timur yang masih menganggap Syiah sesat. Terbukti sejumlah pengajian atau ceramah kegamaan mereka masih mengundang provokasi konflik Sunni-Syiah. Sepertinya labelisasi sesat sengaja dilakukan untuk melanggengkan konflik. Jika masih seperti itu kapan damai bisa terwujud?***

Sumber Foto:
http://santriindonesia.com

Komentar