Home » Bina-Damai » Albertus Patty: Kita Bersyukur Indonesia Punya NU-Muhammadiyah

Albertus Patty: Kita Bersyukur Indonesia Punya NU-Muhammadiyah

Apapun keputusan strategis yang diambil dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang masih berlangsung hingga hari ini, keputusan itu tidak hanya berdampak pada anggota NU dan Muhammadiyah semata. Keputusan dalam muktamar kedua ormas Islam terbesar nan moderat itu juga berdampak pada umat agama lain dan warga Indonesia secara keseluruhan.

Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Pdt Albertus Patty berharap keputusan strategis yang nanti diambil dalam muktamar semakin menguatkan komitmen NU dan Muhammadiyah untuk berperan lebih dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan radikalisme agama. Mengingat rumitnya permasalahan-permasalahan itu, NU dan Muhammadiyah juga diharapkan mendorong kelompok masyarakat lain untuk terlibat menyelesaikannya.

“Kita bersyukur Indonesia memiliki NU dan Muhammadiyah. Selama ini keduanya mampu mempertahankan bangsa ini dengan tetap konsiten memegang Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara untuk memperekat kohesi sosial di tengah masyarakat yang beragam. NU dan Muhammadiyah juga berperan besar dalam upaya mempererat relasi hubungan antar-agama dan antar-warganegara,” kata Patty kepada Madina Online (2/8).

Karena kiprah dan rekam jejak keduanya itu, Patty tidak pernah merasa sendirian ketika menghadapi permasalahan, khususnya yang menyangkut konflik berbasis agama. Pasca kerusuhan di Tolikara, misalnya, banyak jemaat yang mengkhawatirkan keselamatan hidup mereka padanya. Kekhawatiran itu beralasan mengingat sejumlah pemuka Islam yang berpandangan radikal menyeru untuk melakukan aksi balasan. (baca: Mengapa Rizieq Shihab Menyerukan Jihad ke Papua?)

Patty berusaha menenangkan jemaatnya itu. Pada jemaatnya itu, tokoh lintas agama dari GKI Maulana Yusuf, Bandung, itu menyampaikan bahwa seruan aksi balasan itu tidak akan mendapat pengaruh yang cukup luas di tengah masyarakat selama Indonesia masih memiliki NU dan Muhammadiyah. Dan terbukti, tokoh-tokoh dari dua organisasi itu minta umat Islam untuk menahan diri dan tidak terpancing provokasi.

“Dibanding pemuka Islam yang berpandangan radikal, tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah itu memunyai kematangan spiritual yang luar biasa. Mereka mampu menahan diri dan tidak bereaksi negatif di tengah suasana yang penuh amarah dan amuk. Dan kematangan spiritual itu tidak dimiliki pemuka Islam garis keras,” tutur penulis buku Melintas Batas itu.

Menurut Patty, kematangan spiritual tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah, yang senior dan kalangan mudanya, itu terbentuk karena iklim intelektual di lingkungan kedua ormas itu sendiri. Mereka tak pernah berhenti memperkaya kecerdasan intelektual dengan membaca sebanyak mungkin khazanah pengetahuan, baik yang berasal dari tradisi keislamanan sendiri maupun pengetahuan modern. Walhasil, dalam melihat satu permasalahan mereka tidak mendasarkan pada satu cara pandangan tertentu semata.

“Para tokoh NU dan Muhammadiyah sejak awal menyadari bahwa satu persoalan itu tidak berdiri sendiri. Satu persoalan itu umumnya disebabkan oleh persoalan-persoalan lain yang berkelindan. Nah, kompleksitas berpikir seperti ini hanya memungkinkan terjadi di dalam organisasi yang iklim intelektualnya hidup dan berkembang,” urai pendeta yang tidak disukai kelompok Kristen konservatif itu.

Hal lain yang memicu kematangan spiritual itu adalah kesedian tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah untuk mau menyapa dan membuka diri dengan kelompok agama lain. Mereka bergaul dengan kelompok agama yang lain tanpa merasa superior sebagai mayoritas dibanding yang lain. Karena itu, Patty kerap merinding jika melihat komitmen tokoh-tokoh NU dan Muhamadiyah terkait pembelaan mereka kepada komunitas minoritas yang menjadi korban persekusi.

[Irwan Amrizal]

 

Komentar