Home » Bina-Damai » Aksi Teroris Kembali Terjadi di Poso

Aksi terorisme kembali terjadi di Indonesia. Kamis lalu (20/12) empat anggota polisi meninggal dan dua lainnya luka akibat aksi penembakan yang diduga dilakukan kelompok teroris Poso.

Aksi Teroris Kembali Terjadi di Poso

Peristiwa itu terjadi saat petugas gabungan dari Resimen Kelapa Dua Mabes Polri dan Polda Sulawesi Tengah sedang melakukan patroli. Dari arah hutan, antara Desa Tambarana dan Desa Kalora Poso Pesisir Utara, sekitar 20 orang bersenjata memberondong tembakan ke arah polisi.   

Kejadian itu menewaskan Briptu Ruslan, Briptu Winarto, Briptu Wayan Putu Aryawan dan Brigadir Satu Eko Wijaya.

Aksi penembakan terhadap polisi ini tidak terjadi kali ini saja di Poso, Sulteng. Oktober lalu, di Tamanjeka Gubung Biru, Poso, dua orang polisi, ditemukan tewas dalam sebuah misi pengintaian pusat operasi teroris. Tahun lalu, 25 Mei 2011, tiga Polisi tewas ditembak di depan Bank Central Asia (BCA) Palu.

Polisi adalah salah satu target aksi teroris. Menembak mati polisi adalah jihad melawan musuh Allah. Dalam logika mereka, polisi adalah thaghut, sebutan bagi seorang yang menyembah selain Allah. Bagi jihadis, pengertian thaghut tidak saja menunjuk pada non-Muslim, tapi juga aparatus negara termasuk polisi.

Setelah eskalasi penyerangan terorisme kepada polisi makin terlihat, pemerintah kemudian menetapkan Poso sebagai konsentrasi “pembersihan” nomor wahid. Ini adalah lanjutan ‘pembersihan,’ setelah pada 2010 polisi berhasil menghancurkan Kamp latihan militer di hutan Aceh.

Setidaknya ada beberapa faktor mengapa Poso begitu bermakna bagi para teroris dalam meningkatkan operasi jihadnya:

Pertama, bagi mereka, Poso adalah tempat strategis untuk mendaur ulang kekuatan terorisme. Poso adalah basis yang aman (qaidah aminah) dalam menyusun kekuatan baru. Di samping situasi alamnya yang memiliki banyak hutan belantara untuk tempat perlindungan, Poso juga salah satu tempat para thaghut, musuh Islam yang layak diperangi.

Kedua, Poso dipilih karena memiliki semangat perlawanan terhadap non-Muslim yang masih kuat. Ada rasa kebencian terhadap masyarakat non-Muslim yang sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk aktivitas teror.

Poso juga masih menyimpan cukup banyak bekas jihadis yang dulu ikut berperang saat pecah konflik antara Muslim-Kristen. Sebagian besar mereka memilih tinggal di Poso sebagai masyarakat biasa. Kontak antar mereka tetap terjaga. Bahkan, mereka semakin memperluas network ke luar Poso. Untuk menambah kekuatan sumber daya manusia, mereka merekrut banyak anggota baru, baik dari penduduk pribumi maupun dari hasil pertemanan saat mendekam di penjara.

Ketiga, di Poso, banyak masyarakat masih menyimpan senjata, baik rakitan maupun standar militer. Berdasarkan informasi kepolisian, Desa Kalora dan Desa Tambarana merupakan tempat yang banyak ditemukan senjata api. Ada ratusan pucuk senjata, bom rakitan, dan ribuan peluru organik militer yang dimiliki kelompok teroris.

Juli 2012, International Crisis Group (ICG) menurunkan laporannya dengan tajuk “Bagaimana Kelompok Ekstremis Membentuk Kelompok Baru”. ICG menyebut Poso sebagai tempat pelarian sejumlah teroris ring Aceh dan Medan. Setelah Datasemen Khusus Antiteror 88 berhasil menyerang kamp latihan teroris di hutan Aceh (22 Februari 2010), mereka yang selamat lari ke Medan dan Poso.

Selama ini, banyak kalangan melihat jaringan teroris Poso sudah lesu. Sekalipun ada, gerakan mereka tidak terlalu signifikan. Sebagian lainnya menganggap, perjanjian damai Deklarasi Malino yang disepakati untuk meredam konflik Islam-Kristen tahun 2000 cukup berhasil. Kondisi itu ikut menekan radikalisme di tanah Poso. Sehingga pemerintah menganggap tidak perlu melakukan pemantauan ekstra.

Peristiwa ini adalah alarm. Jaringan teroris masih kuat dan terkoordinasi dengan baik. Komitmen besar pemerintah untuk membersihkan Republik ini dari para teroris kembali diuji.***
 

Komentar