Home » Author Archives: Madina (page 28)

Author Archives: Madina

Fitna yang Penuh Cacat

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Tokoh ultra-konservatif Belanda jadi meluncurkan film propaganda anti-Islam. Menurutnya yang salah bukan umat Islam, tapi  Al-Quran.

Geert Wilders akhirnya benar-benar mewujudkan niatnya. Pada 27 Maret lalu, Wilders meluncurkan filmnya,0,  melalui internet. Seperti ramai diperkira­kan, film berdurasi 16 menit itu memang mengandung muatan yang bisa sangat memprovokasi umat Islam. Ada peng­hina­an terhadap Nabi Muhammad, ada cuplikan-cuplikan  Al-Quran tanpa konteks, dan ada rangkaian gambaran satu sisi tentang umat Islam di dunia sebagai kaum barbar yang mengancam kaum beradab.

Hoax: Sesat dan Menyesatkan

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008) September 2007, sebuah email sampai di tangan saya. Subyeknya amat mengagetkan: “Astagfirullah!!! Di New York dibangun bar bangunannya menyerupai Ka’bah”. Penasaran, saya klik pesan tersebut. Isinya menginformasikan ...

Film Islam Kata Deddy Mizwar

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Pada akhir Januari 2008, Madina sempat mengobrol lumayan panjang dengan Deddy Mizwar. Salah satu topik yang mencuat adalah soal film Islam, termasuk soal pengertian istilah ini menurut Pak Haji (begitu ia lebih suka dipanggil), dan apa arti “syariat” di bidang ini. Berikut, petikan percakapan­ itu.

Di mana Fahri di Kairo?

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Jika kebenaran sudah tiba, kebatilan pasti akan sirna. Itulah mungkin esensi dari kisah yang memang diabdikan untuk berdakwah ini.

Talkin, oleh Perempuan Yahudi

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, april 2008)

Di titik itulah mereka diberi tahu bahwa hal terpenting bagi seorang muslim ketika hendak mati adalah menegas­kan kembali keyakinan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Satu.

Ayat-ayat Cinta: Mengaji di Bioskop

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Surga memang ada di telapak kaki ibu.

Hanung Bramantyo mungkin adalah contoh terbaik soal itu. Ketika dulu ia mulai belajar menjadi sutradara, ibunya menasehati: “Kalau sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu”. Setahun yang lalu, Hanung menjalankan amanat  itu. Ia membuat Ayat-ayat Cinta, dan kini ia perlu berbangga karena melahirkan film terlaris sepanjang sejarah di negara ini.

Tinta Biru

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Seorang prajurit muda AS ter­pilih untuk berangkat memelihara keamanan di Irak. Seluruh keluarga­nya sangat bersedih dengan kabar itu. Sambil mengucurkan air mata, mereka melepas kepergian anak kesayangan mereka.